Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

DISTRAKSI PENYELIDIKAN BRANKAS

Oleh: Kanisius Ehak Wain Semuanya menjadi simpang siur. Willy Wato Kalah (WWK) ditetapkan sebagai tersangka tipikor oleh satreskrim polres Flores Timur dalam penyelidikan perkara pembobolan dua brankas Dinas Kesehatan kabupaten tersebut. Sementara itu, setelah hampir delapan bulan berlalu, kasus yang sesungguhnya masih jauh dari titik tuntas. Publik Flotim masih terus menunggu janji I Nengah Lantika—sang kasat untuk menuntaskan pembobolan yang merugikan kas dinas ratusan juta tersebut. Mereka terus mengikuti perkembangan penyelidikan dari pemberitaan media-media massa, dan sering memperbincangkannya di salah satu group diskusi virtual. Intensitas perhatian publik itu harus segera diakomodir, sebelum berubah menjadi sebuah protes massal.  Tampaknya mereka (publik) sudah gerah dengan janji yang tak kunjung ditepati. Spekulasi-spekulasi miring mulai merebak, karena selain bertele-tele, proses penyelidikan menggambarkan beberapa kejanggalan. Agaknya masuk akal mensinyalir...

JIKA PENELOPE CRUZ DAN/ATAU JULIA ROBETS TELANJANG

(Globalisasi Dan Siasat Kita) Jika kita sulit memahami apa itu globalisasi, maka cari saja penjelasan dalam dunia mode: apa itu pakaian atau potongan rambut, maka menjadi sedikit lebih jelas "potongan" globalisasi itu. Jika di Paris, yang terkenal sebagai kota mode dunia, orang cendrung menyukai warna merah dan potongan rambut cepak untuk model pria maupun wanita, maka di seluruh dunia semua orang muda cendrung memakai baju berwarna merah dan berambut cepak. Dunia pabrik kainpun dengan segera merubah warna-warna kainnya untuk menyesuaikan kecendrungan di Paris. Kecendrungan ini kadang-kadang sulit dipahami karena pada dasarnya semua manusia itu tidak sama dalam segala hal : selera, gaya hidup, kekuatan ekonomi, pemikiran. Tapi kenapa kita menyukai sesuatu yang bersifat penyeragaman? Ide "sense of belonging" memberi jawab. Bahwa "rasa termasuk ke dalam suatu kelompok", juga adalah kebutuhan, sama seperti orang butuh makan nasi, minum teh bo...

PREMANISME POLITIK SEBAGAI KETIDAKDEWASAAN BERPOLITIK

Oleh:  Ryko De Buser Di Flores Timur (Flotim) saat ini, situasi semakin membahana dengan gejolak dan isu-isu Pilkada, berbagai jagoan dengan caranya masing-masing mulai menampakan diri mereka diatas permukaan. Parah komunikator politik sudah mulai heboh dengan mengobral kata-kata. Ya, lebih tepatnya, bermain kata-kata ( language game ). Semua calon berupaya terlihat sempurna di mata masyarakat Flotim. Dalam teori dramaturgi Erving Goffman, panggung depan ( front stage ) kandidat dikemas sedemikian rupa untuk menyihir khalayaknya guna mendapatkan kesan positif atau dalam bahasa Goffman disebut sebagai impression management (manajemen kesan). Padahal, apa yang dipertontonkan di depan panggung itu hanya sekadar drama belaka guna pencitraan politik(political imaging). Semua momen akan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Setiap tim sukses dari tiap Paket calon juga bekerja ekstra menarik hati masyarakat. Terjadilah pertarungan janji-janji membual yang terkadang jauh dari n...

KEMANA PARA PEMBERONTAK G.30 S/PKI PERGI KETIKA PAGI 1 OKTOBER 1965?

"Revolusi bukanlah pesta makan malam atau menulis sepotong esei", demikianlah kata Mao Tse Tung. Dan oleh karena itu, tidak boleh tidak, revolusi harus diselesaikan.  Revolusi bukan pertama-tama suatu pesta atau hobi tapi suatu kerja besar, dengan biaya besar. Dan dalam hal perebutan kekuasaan, biaya itu adalah nyawa. Harus dipastikan bahwa kita yang mengobarkan revolusi, harus tetap berada di atas untuk tak tergilas. Kalau tidak, habislah kita. Sebuah tindakan bunuh diri yang konyol.  Dengan resiko yg begitu tinggi seperti itu, orang tidak main-main dalam segalanya : perencanaan, tingkat kekerasan, tingkat terornya. Sehingga dikatakan revolusi memiliki logikanya sendiri. Ia tak memiliki hati untuk berbelas kasih walaupun pada pacar sendiri kalau ia anti revolusi. Revolusi menghendaki ketuntasan dan kepastian bahwa lawan telah habis dihabisi dan kekuasaan berada sepenuhnya dalam tangan. Tapi ketika pagi 1 Oktober 1965, kemanakah para pemberontak G.30 S/PKI itu pergi?...

RAKYAT, RATU ADIL DAN KEPOLITISIAN EKSTRA PARLEMENTER

Kebodohan massa rakyat sangat dibutuhkan untuk melanggengkan kekuasaan. Yesus sendiri ditangkap dan disalibkan dengan melibatkan massa rakyat seperti ini. Jika saja mayoritas orang-orang ini memahami bahwa Yesus berjuang di pihak mereka, bisa terjadi, para penguasalah yang disalibkan. Pemilu datang dan pergi dan kita semua terlibat di dalamnya, menyukseskannya. Setelah itu mayoritas kita rakyat - para pemilih, merasa tugas kita telah selesai. Alat-alat negara telah kita pilih. Mereka sudah pasti menjalankan tugas-tugasnya sebagai alat untuk mengabdi kepada yg punya negara – rakyat . Kita rakyat - pemilih, seolah-olah menganggap bahwa orang-orang yang dipilih itu adalah "Ratu Adil" sehingga tak perlu ada upaya kontrol yg terus-menerus selepas pemilihan. Kenyataan menunjukan bahwa anggapan kita cukup melenceng. Mereka cumalah manusia-manusia biasa yang memegang kuasa negara. Hukum alam mengatakan, jika mereka tidak dikontrol mereka sudah pasti menjadi korup. Alat-a...

AGAMA LOKAL, PENGINJILAN DAN BAYI YANG TERBUANG

Misionaris-misionaris awal dalam penyebaran agama Kristen datang ke daerah-daerah misi dibekali suatu doktrin-ajaran-defenisi situasi, atas daerah-daerah itu. Semangat mesianistik menggebu untuk membebaskan, menyelamatkan orang-orang di tanah misi itu dengan apa yang mereka punya : agama baru - Kristen, dengan segala kabar baiknya termasuk "keselamatan instan". Doktrin - ajaran - defenisi situasi itu adalah : Tanah-tanah misi yang hendak dituju itu adalah tanah-tanah kafir – dunia-dunia kafir, yang mesti diinjili, yang mesti diperkenalkan "Tuhan baru" itu, yang mesti dikristenkan. Orang yang belum mengenal "Tuhan Kristen", orang yang belum mengenal Kristus dengan segala ajarannya adalah orang-orang kafir. Singkat cerita, dunia di luar Kristen adalah kafir. Perang antar agama untuk merebut dan menanamkan pengaruh diberbagai wilayah misi menandai era awal pekabaran Injil disamping pembongkaran-pembongkaran "rumah-rumah ibadat" agama-agama ...

BERTUMBUH DAN BERKEMBANG DARI DASAR (Bagian 2)

Pemberdayaan Masyarakat/Pemberdayaan Diri Sifat yg relatif statis dan juga fatalis dari mayoritas petani memiliki alasan-alasan rasional. Untuk apa bereksperimen dengan inovasi-inovasi baru yang belum teruji untuk suatu hasil produksi yg mantap. Untuk apa ikut terlibat menentang korupsi jika itu berarti hanya cari musuh. Untuk apa bekerja keras menghasilkan materi yang berlimpah jika nasib sudah menggariskan bahwa itu mustahil. Sikap statis dan fatalis seperti ini menjadikan masyarakat selalu tak berdaya. Upaya-upaya penyadaran lewat belajar bersama atas realitas dapat merubah keyakinan-keyakinan itu, dan potensi kreatif mereka dapat dinyalakan kembali. Percaya sepenuhnya bahwa pemerintah/negara bersifat murah hati dan dengan sendirinya selalu konsisten mengupayakan perbaikan kondisi-kondisi hidup adalah naif. Jika mereka menjadi sangat kuat, sementara warga masyarakat sangat lemah, mereka bisa saja tidak perduli terhadap kepentingan publik. Yang dipentingkan adalah kesejahter...

BERTUMBUH DAN BERKEMBANG DARI DASAR (Bagian 1)

Seorang teman bertanya pada saya : menurutmu, apa yang sekiranya harus dilakukan Adonara, pemerintahan maupun warga masyarakatnya, jika ia menjadi kabupaten: suatu pembangunan yang bagaimanakah yang mesti dilakukan mereka. Pertanyaan ini melahirkan tulisan ini. Besar harapan saya, gagasan-gagasan yang dikemukakan ini diperdebatkan, didiskusikan, agar suatu kebenaran baru di sekitar "hakekat pembangunan" dapat kita peroleh. Penulis percaya, kebenaran akan selalu membimbing kita ke arah yang lebih baik. Karena itu semua kita berkepentingan dengannya, apalagi mereka-mereka yang digaji untuk memperbaiki nasib orang banyak. "Bertumbuh Dan Berkembang Dari Dasar" coba melihat suatu pendasaran yang kuat. Pembangunan tidak selalu identik dengan pencakar-pencakar langit, mega-mega proyek, barang-barang mewah, teknologi-teknologi canggih, sembari mencampakan produk-produk kebudayaan sendiri, juga sembari mencampakan seluruh tata nilai lokal yang juga universal : kes...