Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sole oha

NEGERI MIKIR (MILITAN KRITIS)

Oleh Tuto Dosin Tanahku tumbuh padi dan jagung..  Kemarau panjang masih tersisa di lumbung..  Karena terlahir sebagai orang gunung..  Semua luka dan duka tertanam di kampung..  Tanahku kering di makan matahari..  Pecah-pecah menambah kelaparan diri..  Usaha tak perna habis memenuhi perut sendiri..  Sebab kami tak lahir untuk menunggu pendiri...  Negeriku,negeri militan kritis..  Berpikir dan berdiskusi di antara kopi pahit dan manis..  Karena kami bukan generasi apatis..  Terlahir di ujungnya negeri penuh cerita piluh..  Membuat kami bergerak tak mau mengeluh..  Berpikir kritis adalah kemampuan terbaik daripada duduk berkeluh..  Nenek moyang mewariskan akal dan keberanian..  Tinggal kami menanam perdamaian dan kepercayaan..  #adonara,awal agustus yang kering..

KOTA MENYAPA PELOSOK

Oleh Baruna Cabodaflora Hei, flamboyan baskara! Bila besok kau hendak mencium rekah bibir barunawati di timur nusa bunga. Katakan padanya, gaung Meko dan Palmerah sudah membentur gendang telinga kota. Hei, bayu kembara! Kalau lusa kau akan mencumbu busung dada perawan pasir putih di timur nusa bunga. Katakan padanya, kasak-kusuk kehadiran bule-bule dan tuan-tuan berkantong tebal 'tuk menikmati kemolekan tubuhnya demi devisa, sudah memantik bara cemburu di hati kota. Hei, nawang wulan! Jika kau berpapasan dengan raja kalong di langit malam sisi timur nusa bunga. Katakan padanya, desah gelisahnya sudah mengusik tidur kota. Kota berkaca gundah dalam secangkir kopi robusta. Kota menyerap nyanyian salam dari desa di lidah Leo Kristi. Kota melihat potret pembangunan dalam bingkai puisi WS. Rendra. Kota menyimak sajak Peringatan Wiji Thukul. Kota mendengar bocah pemancing ikan menangis di dalam solunya di tengah-tengah pekatnya lapar malam dalam syair Saut Situmorang. ...

NYANYIAN NUSA TADON

(Kita tidak besar-besar juga , walau seribu khilaf disadari, walau seribu dosa disesali. Sejarah kita tetap juga merah. Terlalu merah. Terlalu berdarah-darah. Sayang. Terlampau sayang) Ladang-ladang jagung bermekaran Pohon-pohon kelapa terhampar melambai Gunung bukit bersembulan dari tanah-tanah datar Padang-padang membentang lelap Matahari mencurahkan cahya berkilau Angin selatan berehembus...terus berhembus Ile Boleng* tegak bisu Berabad-abad lewat di pangkuannya Anak manusia bunuh-membunuh Damai-berdamai Menari-menangis, tertawa-bersedih : "Oh, bodoh kala aku, geri kantor maso bui Geri kantor maso bui"** Kebodohan berpadu sesal Kesedihan berpadu kegembiraan Kebiadaban berpadu keadaban Kekumuhan berpadu keluhuran Perang berpadu damai Kematian berpadu hidup Nyanyian Nusa Tadon adalah Nyanyian berwarna merah Tentang darah Nyanyian Nusa Tadon adalah juga Nyanyian berwarna putih Tentang harapan Dinyanyikan dari ladang-ladang jagung Y...

MARI BERSUMPAH

Hidupmu mesti api abadi Membakar kedunguan Dan tangan terkepal Yang menyulut Revolusi cinta manusia Bukankah di dua delapan Telah ada pemberontakan itu Dan bangsa ini tumbuh ? Kita adalah angkatan itu Gelorah itu Roh itu Mari bersumpah Jangan beri hormat Pada koruptor Pencuri Penindas Pembunuh Kegelapan Jangan ! da Ama Nu'en Bani Tulit Mutiara Dari Woka Belolon

CATATAN UNTUK SEBUAH IMPIAN KEMERDEKAAN

Mengapa kemudian Aku sering bermimpi,   mengidamkan tentang sebuah kemerdekaan sejati. Memimpikan kebebasan... Kebebasan yang jauh dari rasa cemas, Cemas akan dentuman meriam dan anak panah. Yang kapan saja bisa menembus dinding rumahku. Kelegaan akan sebuah kegelisahan hebat, Yang terus menggoncang nurani. Tentang ayah yang menghunus pedang Di hadapanku, lalu keluar rumah, Dengan mata menyala-nyala bak mata singa Yang siap menerkam mangsa. Ayaahhh...panggilku tak terdengar... Aku seperti seorang pemimpi kecil Yang berdiri diatas gunung... Dan menatap jauh ke arah Kobaran api dan asap merah Yang terbang membakar langit... Menutupi wajahku kala menyaksikan Para korban berlarian bermandikan darah, Dengan luka menganga ditubuh mereka, Dan pula yang terbaring tak bernyawa dengan puluhan anak panah menembusi tubuh mereka. Aku berteriak sekerasnya, Sampai pita suaraku pecah. Sampai Pembuluh nadiku membengkak... Namun jeritan bayi dan tangis ibu-ibu Yang mer...

DI BAWAH UTOPIA

(Kepada sahabatku YLL yang pergi bersama kabut : Kita harus bisa bawakan matahari dan harapan kepada setiap malam dan keputusasaan) Sahabat, Kita berdiri di semesta ini   Dengan iman Pindahkan segala gunung Hancurkan segala karang Lindas segala tirani Lumat segala setan ....juga dengan iman Ubah ayunan parang Jadi kecupan kasih Dan.... Inilah mujizat penghabisan yang belum kita kerjakan : Ubah batu jadi roti agar tak lagi ada lapar Ubah ilalang jadi kain   agar tak lagi ada telanjang Ubah tanah jadi rumah agar tak lagi ada gelandang Ubah keadilan jadi hukum agar tak lagi ada tangis dan air mata Tapi sahabat,   Khianat selalu tiba lebih awal dan memaksa setiap kita untuk selalu menyerah di bawah Utopia. Memang. Tapi bukankah gelora kita tetap abadi melintasi jaman ? Sahabat, kasih tangan ! (da Ama Nu'en Bani Tulit. Mutiara Dari Woka Belolon)

Di Sini Kami Menanam Mimpi

* Kami menanam mimpi di sini Pada tiap remah tanah dan kerikil Di antara sekat-sekat batu Jembatan kami menuju esok Jembatan menuju timur **Tanah ini milik negara! Sebuah jembatan beton nan mewah akan dibangun di sini! Biar kota ini indah! Menawan! *Negara yang mana? Negara KITA-kah? Atau negara-Mu? Dari perutNya kami lahir Bermanja di mata airNya sejuk Mengejar bianglala selepas hujan Dari perutNya kami makan Menghidupi setiap masa depan Di sini kami menanam mimpi! **Persetan! Tanah ini tanah bertuan! Hak negara! * Kau bicara HAK pada penenun keadilah Di telingaku gelegar itu adalah makian Kau merobek selendang IBUmu Kau merobek rahim dan hatiNya Kau memisahkan MERAH dari PUTIH, DARAH dariTULANG Anak siapakah dirimu? Anak siapakah kami? Di sini kami menanam mimpi! **Maaf! Tanamlah mimpimu di kolong jembatan Kelak setelah selesai kami bangun *Maaf! Robohkan saja tubuh kami Tetapi mimpi terus tumbuh Pisah...

BATALKAN SEKARANG JUGA

Puisi oleh Jhon Rou Boli Kala ladangnya menghijau Dan bulir padinya kuning merekah Senyum itu tersungging tulus Di sela bibirnya nan keriput Pak Tani bangga Di batas lelehan keringat suci Nyanyian ringan di tepi ladang Dalam irama alam nan kacau Sekacau Negeri titipan leluhur Oleh ulah pemimpin-pemimpin nakal Berselingkuh dengan kaum kapitalis Menjarah harta pusaka bangsa Bermain mata dengan kaum Neolib Di balik meja kaca penguasa Kian mesrah tak terbendung Negeri dititipkan ke tangan asing Rakyat menjerit di tengah ladang Kala ditimpa puting beliung Kaum marhaen merintih dalam sunyi Digilas lonjakan harga BBM Titah pemimpin negeri wajib hukum? Wakil rakyat bisu dan tuli Harga BBM siap melambung Tarif Dasar Listrik bakal mencekik Harga sembako pasti membengkak Oh negeri 1001 malapetaka Dalam lembah marhaen nan sunyi Kami berseru wahai pemimpin Negeri Dengarkanlah suara kami Pemilik kedaulatan di Negeri ini Batal...

SABDA KAUM MARHAEN

Puisi oleh Jhon Rou Di tengah terik memanggang bumi Berteman karung dan keranjang Kami mengais onggokan sampah Untuk mencari sesuap nasi Engkau lewat dengan sepatu mengkilat Dalam keriuhan ibu kota Kami terhimpit dalam sejuta persaingan Mengemis dan mengamen di jalanan Kami lakoni tanpa malu-malu Demi mencari sesuap nasi Engkau melintas dengan mobil mewah Bersimbah keringat di tengah ladang Bermandi peluh di pabrik-pabrik Memacul dan terus memacul Memanggul dan terus memikul Ketela pohon, jagung dan pisang Menghidupkan anak-anak tani, buruh dan nelayan Tapi lidahmu terus mengecap 4 sehat 5 sempurna Lalu kami kau sodorkan raskin Tangan-tangan terampil anak garuda Memoles wajah bangsa Dari Sabang sampai Merauke Dengan gedung-gedung megah Dan jalan-jalan raya nan mulus Namun engkau lupa... Engkau bangga pada apa yang dihasilkan Bukannya pada tangan-tangan yang menghasilkan Tiga tahun yang lalu De...

D I A

Puisi oleh Jhon Rou Boli Di tengah hiruk pikuk kehidupan Dia melangkah dalam gundah Mencari jejak-jejak terbuang Yang terusir dari atas tanah ini Tanah warisan Leluhurnya Yang kau rampas dengan dalih pembangunan Dia menelusuri lorong-lorong pengab Dengan aroma yang menyengat Tempat kau timbun sampah-sampah ketamakan Tempat anak negeri membaringkan raga Sambil menahan rasa lapar Tetapi engkau...berdiam diri di vila mewah Di atas cadas bukit bebatuan Dia memacul dalam resah Bergulat di atas lahan kerontang Lalu memanen singkong kurus Untuk mengganjal rasa lapar Tetapi engkau tertawa renyah Sambil melahap daging mentah Dia adalah anak kandung Ibu Pertiwi Yang membanting tulang di tengah ladang Yang bergulat dengan arus dan gelombang lautan Yang mengadu nasib di pabrik asing Yang kau hargai dengan upah murah Keadilan oh keadilan... Di bawa kepakan sayap Garuda Kami anak-anak Pancasila Menuntut keadilan yang terpasung Di atas taring-taring kapit...