Rabu, 23 Desember 2015

PULANG KAMPUNG

Oleh: Sugali Adonara

Seperti dugaan Maria sebelumnya, tak ada matahari setelah hujan. Sore menyergap dengan cepat dan langit begitu bersih dengan saputan awan pastel sedikit kemerahan, halus serupa sapuan kuas seniman. Tanah basah berwarna-warni, cokelat, merah dan hitam. Rumput-rumput lebih hijau, sedangkan yang merangas karena kemarau lampau menumbuhkan harapan pada tunas-tunas kecil baru.

Langit segera kelabu. Pelan-pelan menghitam. Lalu bintang keluar satu-satu. Seperti kata orang tua-tua, hujan di siang hari akan melahirkan cahaya di malam hari. Maria melihat kerlap-kerlip yang asyik masyuk dalam khusyuk. Dan kemudian akan ada bunyi bertalu-talu dari rumah-rumah berdinding bambu. Samar-samar dari celah bambu, cahaya lentera menegaskan malam yang dingin. Memberi kehangatan. Menemani ina-ina mengolah jagung titi. Jagung titi ini nama dari makanan khas orang-orang kampung Maria. Lebih nikmat dari beras. Bila disuguhkan dengan segelas kopi atau teh bersama sayur-sayur olahan seperti rumpu-rampe khas kampung, aromanya akan meminta lambung segera diisi. Kadang juga ina-ina menyuguhkan mudu, salad kampung yang asam dengan sedikit rasa manis bercampur pedasnya cabe merah. Jagung titi adalah sebuah pengganti bila beras terlalu mahal.

Pria-pria akan memilih duduk di beranda panjang, di atas bale-bale bambu sambil berselimut dengan sarung tebal. Mereka duduk berkelompok dan saling bercerita tentang apa saja, entah itu soal kebun atau isu kampung sebelah yang berseteru dengan kampung di sebelahnya lagi. Mereka melepas lelah setelah seharian di kebun dengan kopi dan rokok koli yang segera akan membuat batuk kalau tidak terbiasa dengan aroma dan rasanya.

Beberapa anak kecil keluar bermain. Mereka menikmati cerahnya langit setelah hujan seharian. Berkejar-kejaran di tanah lapang tengah kampung hingga ke beranda balai kampung. Setelah itu, mereka akan bubar dengan sendirinya. Berlari ke rumah masing-masing atau saling mengajak untuk bersinggah rumah. Makan jagung titi. Berbagi tawa terakhir sebelum ina dan ama menyuruh segera tidur.

Kemudian kampung akan sepi. Pada saat itulah Maria menyukai suara jangkrik atau lolongan anjing di kejauhan. Karena itu pula, Maria suka pulang kampung untuk sekedar menikmati keramaian yang otentik.

***

Anak-anak kampung, mereka bermain karena itulah dunia mereka. Mereka tertawa karena begitulah mereka menyikapi. Tidak ada gadget atau televisi yang mengikat kaki atau mengurung liarnya mata. Mereka harus melihat hal-hal luar biasa di luar sana, di celah-celah pohon kopi atau pelepah-pelepah kelapa yang berguguran. Mereka mau berbasah dan berkotor kaki melintasi kali atau petak kebun sayur.

Sementara itu pria yang dewasa-dewasa memikul cangkul dan parang ke kebun. Membersihkan dan memberi batas secara tradisioanl pada lokasi-lokasi yang akan ditanam. Dan pada satu kesempatan, mereka akan bersuara seperti pemburu, melengking sambil mengetuk leto hingga menggema pada pucuk-pucuk pinang. Maka bersahut-sahutlah suara, mungkin satu dua orang, tapi kadang mereka yang kebunya berdekatan akan membuat suasana sangat ramai. Mereka hanya saling menyapa, meski antara pondok dengan pondok berjarak ratusan meter.

Maria sering bertanya-tanya mengapa kampung begitu sepi namun menyimpan keramaian yang otentik. Perempuan-perempuan dewasa bahkan yang lebih muda akan bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan makanan, memanasakan yang tersisa semalam tadi, membuat teh dan kopi dan memeriahkan bale-bale di ruang tengah rumah dengan aneka makanan. Lalu pria-pria akan bangun sebelum kabut tersibak cahaya tersisa. Sebelum mendung musim penghujan menggantung tebal. Juga sebelum ayam mematuk embun sisa-sisa.

Ina Prada, nenek Maria, melakukan hal yang sama. Tak peduli meski suaminya, ama Kopong, sudah lama tiada. Bangun pagi sekali dan membopong tubuh bungkuknya oleh karena usia, mulai beraktivitas seperti perempuan-perempuan kampung lain. Dia berlaku seolah suaminya itu masih ada. Tapi kata ama Yohanes, ayah Maria, seorang ina tidak akan berhenti, karena pengabdian sesungguhnya adalah pada kehidupan. Tungku yang hidup adalah simbol kekalnya nama seorang suami.

Maria suka melihat laku neneknya. Sejak sepuluh tahun lalu, saat Maria masih puber, kakenya mati karena sakit kanker. Ayahnya sudah berupaya keras agar ama Kopong bisa lebih lama melihat Maria – paling tidak – hingga sedewasa ini. Tapi kata ayah Maria, tak ada koda yang bisa dilawan. Dan begitu saja kakeknya pergi.

Sudah sejak dulu, perempuan adalah tongkat kukuh bagi ketimpangan pria. Oleh lewo tanah perempuan punya tempat sendiri yang agung. Suatu kali Maria diberitahukan ayahnya tentang hal itu:

“Perempuan kampung kita adalah pejuang sejati. Mereka bekerja dua kali lebih berat dari kaum pria. Zaman dulu, ketika masih terjadi begitu banyak perang antar kampung dan suku, perempuan adalah pertahanan terakhir kedaulatan sebuah kampung. Ada aturan yang tak boleh dilanggar: perempuan tidak boleh dibunuh. Dan mereka, perempuan dan anak-anak kecil ini menyelamatkan garis darah kaumnya.”

Maria makin paham mengapa begitu banyak janda di kampungnya yang bertahan dengan kondisi paling menyedihkan sekalipun. Tidak seperti kakeknya yang tetap menjadikan neneknya sebagai satu-satunya istri, banyak janda lahir dari rahim ketimpangan. Ketimpangan situasi sosial dan keadaan ekonomi yang tidak lagi kontekstual seiring pergeseran zaman. Mereka menjadi janda karena suaminya merantau atau karena ditinggal pergi kepada istri yang lebih muda.

“Kampung tidak lagi seperti dulu Maria. Suasananya mungkin masih sama. Tapi tidak dengan sendi-sendi yang menopang nafas kampungnya. Tidak seperti zaman dimana sekarung beras atau sebotol minyak goreng bisa diganti dengan beberapa buah kelapa.

Setelah dunia menjadi sangat modern, kampung berubah menjadi sebuah gambar besar tentang utopia sosial. Kau sudah besar Maria, dan harus tau bagaimana kampungmu ini berdiri di atas wadas yang kukuh namun berbadan renta. Bukan karena usia, tapi karena modernisme yang diterjemahkan semena-mena oleh yang punya kepentingan. Setiap kali kau pulang kampung kau akan bertemu dengan perubahan.”

“Bagus bukan, ayah. Perubahan menjadi tonggak kemajuan. Kemajuan yang positif tentunya. Saya melihat dengan jelas kampung kita berubah dan memberi beberapa dampak positif. Misalnya, jalan yang bagus sekarang ini menjadi media penopang distribusi produk pertanian. Lebih lancar dan lebih cepat.”

“Seharusnya. Semestinya perubahan itu adalah hal yang bagus. Tapi perubahan yang semena-mena itu tidak bagus. Coba kau lihat kampung Betawi di Jakarta. Mereka terasing di tanah mereka sendiri. Begitu juga yang sekarang sedang terjadi di kampung kita. Jalan-jalan bagus dibangun dan kendaraan bisa masuk dengan suka hatinya ke kampung ini. Petani tidak perlu lagi menyewa kuda atau gerobak besar untuk ke pasar. Itu bagus, bagus sekali. Namun bagaimana bisa itu meyakinkan kalau ternyata orang kampung harus bekerja sepuluh kali lipat lebih berat agar bisa sejahtera? Semua yang kota minta dan butuhkan datang dari kampung. Tapi kampung tidak merasakan makna dari gencarnya pembangunan ini. Jalur transportasi dibangun hanya untuk menopang akumulasi arus modal dari kota yang sudah sumpek ke kampung yang masih memberikan ruang-ruang pengisapan.”

Maria memaklumi ayahnya. Betapa kolotnya sang ayah, menurutnya. Maria melihat bahwa orang-orang kampung menerima banyak hal yang baik. Jalan-jalan baru yang dibuka menjadi akses bagi petani di kampungnya itu pergi dan menjual hasil taninya dengan lebih mudah. Praktek pengisapan petani, menurut Maria, harusnya diperangi oleh pemerintah dengan produk-produk aturannya. Tidak seharusnya perubahan disalahkan. Kemajuan itu mutlak – menurut Maria – dibutuhkan untuk merubah peradaban ke arah yang lebih baik. Tapi ada suatu hal yang mengganjal pikirannya. Dia bertanya kepada ayahnya:

“Ayah, mengapa orang kampung tidak berubah? Maksud saya, tidak seperti masyarakat yang hidup dalam zaman modern biasanya.”

Ama Yohanes membetulkan duduknya. Lalu dia memandang mata kecil putri sulungnya itu dalam-dalam.

“Sebuah kampung tetaplah sebuah kampung, Maria. Kota tumbuh dari kampung, hanya karena alasan-alasan ilmiah tertentu kampung bisa tumbuh menjadi kota. Karena kebutuhan. Kebutuhan yang masuk akal tentunya. Tapi pada dasarnya, realitas membuktikan pergeseran kampung menuju kota mendegradasi banyak kearifan dan terbangunlah sebuah produk artifisial. Ruang-ruang kehidupan yang gamang. Perubahan yang cepat namun kosong.”

“Pemerintah memberikan infrastruktur yang baik agar supaya kampung terbuka dan menemukan hal-hal baru. Bertumbuh dan berkembang. Asas evolusi, ayah.”

“Evolusi yang adiluhung itu kalau dia berguna sebaik-baiknya untuk semua. Sekarang ayah kasih sebuah contoh: pendidikan modern masuk dan memberi banyak sumbangsih. Apakah sia-sia sumbangan itu? Tidak juga. Hanya saja banyak yang tidak tepat guna. Sekarang banyak petani menjual tanah, karena pendidikan mahal. Padahal di kampung kan sudah ada sekolah. Pendidikan modern sudah masuk kampung, Maria. Tapi, mereka yang petani ini sudah tau kalau pendidikan itu harus sebagus-bagusnya dengan embel-embel akreditasi. Ini kebutuhan dunia kerja, setelah kerja di kampung tidak bisa menopang arus perubahan yang mempengaruhi tuntutan hidup. Dan embel-embel pendidikan ini butuh uang banyak. Ya sudah, petani harus jual tanah karena meski hasil bumi sudah bisa lebih muda dijual ke pasar, harganya masih milik kulak.”

“Jadi soal perubahan kampung, menurut ayah harusnya bagaimana? Kampung dengan segala nilai yang dimilikinya jelas-jelas harus bertumbuh. Kampung harus berjalan maju, tidak harus terikat dalam batasan-batasan primodial yang kaku bukan, ayah?”
Ama Yohanes memahami jalan pikiran Maria. Perubahan memang berharga mahal. Seperti usia yang tidak menunggu keputusan manusia untuk berlalu. Tapi, ada hal-hal yang bisa dipertahankan, tidak boleh berubah. Dan kampung harusnya juga begitu. Tidak boleh berubah bukan berarti jatuh dalam ketertinggalan, karena konteks ketertinggalan hanya soal mampu melihat zaman atau tidak.

“Kau masih ingat pertama kali ayah membawamu pulang kampung, Maria?”

“I-ya.” Maria sedikit tidak yakin.

“Kau menangis seharian karena tidak ada pendingin ruangan di rumah kakek kala itu. Kau terbiasa dengan udara rumah yang sejuk oleh karena pendingin ruangan. Tapi itu kau tidak dapatkan saat di kampung. Dan apakah sekarang kau menangis atau mengeluh seperti dulu? Tidak! Ya, tidak sama sekali. Ayah malah senang kau mau menemani nenek sesekali ke kebun. Kau seperti menemukan dunia baru, padahal masih di tempat yang sama, dimana kau menangis hanya karena pendingin ruangan. Artinya apa? Kau sudah berdamai dengan suasana demikian itu.”

“Saya sudah dewasa ayah. Bukan anak-anak lagi.”

“Di situlah jawaban pertanyaanmu tadi. Itu yang ayah maksudkan dengan perubahan. Perubahan yang harusnya beradaptasi dengan kampung, bukan sebaliknya.”

“Jadi maksud ayah, jalan-jalan yang dibangun itu atau akses infrastruktur yang lebih baik sekarang ini sia-sia bagi kampung?”

“Tidak juga. Tapi semua ini tidak lebih dari akumulasi perubahan di kota. Kota membutuhkan lebih banyak. Dan mereka butuh akses yang lebih luas terhadap sumber pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Akses yang tidak adil tentunya. Memberikan ruang kepada orang kampung, tapi bukan orang kampung yang mengolah ruang tersebut.”

Maria mengangguk paham.

Demikian setahun lalu Maria berbicara dengan ayahnya, Ama Yohanes, tentang kampung yang sekarang berbentuk kotak-kotak kecil dalam paradigma pembangunan. Ada kotak yang menggambarkan betapa kampung benar-benar diperhatikan, namun kotak yang lain menunjukan betapa kampung hanya area tambang bagi kota. Sementara di kotak yang lebih besar berisi mantra-mantra sulap yang menghibur namun utopis, yang hilang sia-sia dalam kedangkalan berpikir kaum pemerhati.

Meskipun begitu Maria masih tidak setuju dengan ayahnya tentang pembangunan infrastruktur di kampung. Bagi Maria, pembangunan infrastruktur jelas wajib dibutuhkan dalam mengakses perubahan. Bagaimanapun pergerakan zaman tetaplah sebuah mesin besar yang membutuhkan penggerak yang besar pula. Negara-negara yang maju pesat adalah karena pembangunan dimulai dari kampung dan perputaran modal terjadi di kota. Kota menjadi sentra dari semua pembangunan terakumulasi dan bergeliat melahirkan kemungkinan-kemungkinan. Maria melihat bahwa terseok-seoknya kampung tidak hanya salah pada regresi pembangunan. Banyak masyarakat kampung tak mau berubah. Mereka diam di tempat. Seolah nyaman dengan kondisi yang begitu adanya. Setidaknya begitu menurut Maria.

Bagi Maria, perubahan zaman adalah kompensasi perjalanan waktu. Bagaimana mungkin menyalahkan waktu yang terus berputar? Maria teringat dialognya dengan Abdul, teman kuliahnya. Menurut Abdul, waktu bergerak sangat cepat namun perubahan bergerak sangat lambat. Kadang perubahan itu hanya fatamorgana di dalam rentang pergeseran waktu. Orang di Eropa mungkin sudah mengendarai kereta cepat tenaga surya, tapi dengan moda transportasi yang sama di India misalnya baru memikirkan bagaimana menggunakan kereta konvensional bertenaga listrik. Padahal masyarakat Eropa dan India hidup dalam jenjang waktu yang sama, zaman yang sama saat ini. Ironi pergeseran waktu adalah melahirkan tragedi perubahan, demikian Abdul. Pada akhirnya waktu dan perubahan hanyalah utopia kalau tidak mau dibilang ilusi pemikiran.

Maria hampir tidak memahami pemikiran Abdul yang sangat tergila-gila dengan Fisika kuantum itu. Maria mungkin memahami bahwa pergeseran waktu dan perubahan adalah dua hal yang realtif hubungannya. Perubahan bisa saja nisbi kalau tidak mau dibilang tidak ada sama sekali, sementara waktu bergerak maju searah. Tapi bukankah perubahan bisa saja hanya menjadi cemilan pemangku kepentingan? Stalin berkoar-koar tentang perubahan konsep komunisme yang lebih modern tapi mengadopsi cara-cara totaliter ala fasis. Timor Lorosae pernah menjadi ladang pembantaian oleh militer Indonesia dengan alasan mencegah gerakan sparatisme, merubah wajah Timor Lorosae menjadi lebih beradab. Masih banyak lagi kemasan perubahan yang tidak relevan dan cenderung politis. Destruktif dan mencederai posisi manusia sebagai yang empunya waktu dan perubahan.

Pada akhirnya Maria menemukan ujung semua itu - tentang kampung yang bergeliat, tentang waktu yang bergeser dan lahirnya perubahan – dalam konsep besar akumulasi modal. Kampung harus menanggung – seperti halnya tutur sang ayah – beban akumulasi modal itu sebagai konsekuensi media perubahan itu sendiri. Perubahan yang dirancang dan didesain oleh kelompok kepentingan tertentu demi langgengnya suatu sistem, bahkan serusak apapun sistem itu. Kampung dengan segala keterbatasannya harus berjuang mengikuti arus perubahan yang kadangkala melawan gerak waktu, kadangkala juga mempermainkan gerak waktu itu sendiri. Lalu apakah dengan begitu kampung harusnya melawan perubahan? Tidak. Kampung harus belajar mengalami perubahan itu. Tapi bukankah itu memposisikan kampung sebagai yang didikte perubahan bukan sebaliknya perubahan yang harusnya melibatkan diri dalam realitas kampung? Bagi Maria semua kemungkinan jawaban akan melahirkan kisah-kisah paradoksial yang sama. Bagaimanapun kepentingan adalah bentuk praksis dari ketamakan manusia yang setua umur bumi.

****

Hari ini akan hujan lagi. Awan sudah tebal sekali, hitam seperti kanopi raksasa di langit. Angin tidak berhembus dan hawa terasa lebih sejuk. Maria duduk di beranda rumah kakeknya, bersila di atas bale-bale dengan kwatek yang membungkus separuh tubuhnya. Di depannya sang nenek sedang mengupas pinang untuk dimakan dagingnya. Hari ini, Ina Prada tidak ke kebun untuk memberi makan babi-babinya. Hanya saja ama Niko, paman Maria, pergi ke kebun untuk mempersiapkan lahan tanam jagung. Kata ina Prada, panen jagung tahun kemarin sangat buruk. Semoga saja tahun ini lebih baik. Dengan begitu dia bisa menampung jagungnya di lumbung untuk persiapan musim kemarau dan diolah menjadi jagung titi. Beras sangat mahal di kampung, sementara kebutuhan hidup lain tak kalah mahal juga.

Sejurus kemudian hujan turun sangat deras. Maria teringat kota M, tempat tongkrongannya dan teman-temannya yang mungkin sekarang sedang menikmati segelas kopi di sudut sebuah kafe sambil menunggu hujan redah. Pada saat itu Ina Prada bertanya:
“Ina, kapan wisuda?”

“Setahun lagi, nek.”

“Nanti ina kerja di M dengan ayah dan ibu di sana?”

Maria tersenyum sejenak. Sekelompok anak-anak berlari riang di bawah guyuran hujan. Maria menatap keajaiban itu dengan sungguh. Kampung yang sepi namun riuh dengan keramaian otentik ini seperti membiusnya.

“Kalau Maria pulang kampung saja bagaimana, nek?”

Ina Prada tertawa memamerkan gigi hitamnya yang kontras dengan ampas daging buah pinang dan buah siri.

“Mau kerja apa di sini, ina?”

Malang, Desember 2015 
Posting Komentar