Selasa, 09 Juli 2013

"BEKU” SANG NAGA LAUT YANG PERKASA (Bagian 1)

Oleh : Marselinus B. Lewerang

Tarian tradisional yang satu ini memang tidak banyak dikenal tapi punya nilai folosofis sangat tinggi. Rugi bila tidak digali dan dipopulerkan sebagai tarian masal yang menunjukan jati diri. Orang menyebutnya dengan nama “Beku.” Entah sejak kapan seni perpaduan antara olah tubuh, suara dan alat musik ini diciptakan tak ada yang tahu. Yang pasti bahwa hingga sekarang masih sering dimainkan oleh masayarakat Lamaholot Timur yang berdomisili di wilayah Leragere-Lembata.

Menurut catatan lepas Almahrum Drs. Stanis Atawolo (1996), istilah “beku” merupakan adaptasi dari bunyi “bek-ku, bek-ku, bek-kukukuku, be-ku.” Bunyi tabuhan gendang yang digunakan sebagai pengiring tari. Dalam tata irama bunyi tersebut dijadikan sebagai pemandu langkah kaki sekaligus penentu utama irama tari.

Konon katanya tarian beku dibawa oleh sekelompok pengungsi dari pulau Nuha ata, yang kini menghuni wilayah Leragere. Sebagaimana catatan lepas Almahrum Ambros Oleona (1989), Nuha ata merupakan sebutan lain dari Lepan Batan. Sebuah daratan luas antara pulau Alor dan Lembata. Daerah tersebut diperkirakan tenggelam karena bencana hebat penggenangan wilayah. Efek dari mencairnya es kutub. Peristiwa tenggelamnya daratan inilah yang menyebabkan terjadinya pengungsian besar-besaran (bang pong, leka duli). Setiap kolompok etnik ketika itu pergi meninggalkan kampung halamannya dilanda bencana dengan membawa serta warisan budaya mereka.

Pola tari beku sebetulnya mirip dengan “kolewala” dari daerah Atadei-Lembata, “lili beku” dari Terong-Lamahala dan “Lego-lego” dari Alor. Kalo lili beku dan lego-lego menggunakan instrument gong dan gendang, beku-Leragere hanya menggunakan gendang saja. Beberapa penggalan sair dari tiga ragam beku ini memiliki kemiripan. Contohnya seperti “Laira,” “helero” dan “eleha”.

Menurut tuturan lisan yang diwariskan turun temurun, dari sisi estetika gerak tari beku pada dasarnya merefleksikan gerak seekor ular yang disebut “naga laut.” Ular raksasa tersebut berupaya untuk menolong sekelompok awak perahu yang pecah karena amukan topan.
Tempat kejadiannya diperkirakan sekitar tanjung suba wutun. Refleksi ini nampak pada komposisi tari beku secara keseluruhan. Bahwa komposisi beku dibagi dalam tiga bagian yaitu “waheng,” “lid’o” dan “pur’ing.” Waheng adalah penari berpasangan yang melakukan gerakan gelombang karena pukulan jenggot naga. Dominasi gerakannya meliputi kibasan kiri kanan dan loncatan maju mundur. 

Lido adalah ujung kepala naga. Diikuti areal pertengan badan ke arah kepala. Bagian ini diisi oleh kelompok penari laki-laki. Gerakan tarinya meliuk-liuk seperti kepala ular. merupakan pemandu arah putaran. Sifatnya kokoh kaki dan lentur pinggang. Pur’ing adalah bagian ujung ekor mengakhiri barisan dari pertengahan badan ke arah ekor. Bagian ini diisi penari perempuan. Gerakannya lemah gemulai seperti ekor ular. Arahnya mengikuti bagian kepala.- BERSAMBUNG.
Posting Komentar