Senin, 08 Juli 2013

Geliat Ekonomi Desa


Cerita oleh: Asis Lewokeda
 
Nama Libu duduk bersilah di depan pintu kamar sebuah rumah kontrakan. Lelaki 59 tahun itu banyak bercerita mengenai kondisi masyarakat di sebuah desa daerah asalnya, desa Lewopao. Wilayah administratif  desa itu berada di Kecamatan Adonara Tengah, Kabupaten Flores Timur

Desa Lewopao terdiri lebih dari seratus kepala keluarga. Mayoritas masyarakat di sana hidup sebagai petani. Kepemilikan lahan masyarakat tersebar. Ada wilayah lahan yang tersebar hingga ke daerah pantai di dekat Desa Waikewak, Kecamatan Adonara barat.
“Penghasilan utama masyarakat di sana (di Desa Lewopao) dari hasil kelapa, kopi, dan kemiri. Hampir semua punya itu”, ujar Nama.

Sebenarnya, lanjutnya, ada juga hasil tanaman lain seperti Vanili, namun ketidakstabilan harga Vanili dalam yang terjadi belakangan ini membuat para petani tidak serius mengurus. Tanaman Kakao yang juga seringkali bernasib naas dengan kondisi buah yang hancur.
Di lain sisi, kemarau panjang menjadi ancaman serius bagi produktifitas kopi. Ketika harga kakao naik, banyak petaniyang memanfaatkan lahan tanaman kopi untuk menanam kakao.  Lahan serta tanaman kopi jadi rusak karena ditutup kakao.

Banyak petani menyasar kemiri sebagai sumber penghasilan. Buah kemiri yang jatuh, diambil, jemur, kemudian dititih. Setelah memisakan biji dari kulit, kemiri dijual.
“Kemiri yang dihasilkan ada yang sampai berton-ton. Kemiri yang putih, bulat, bersih, bisa dijual dengan harga diatas Rp 20 ribu per kilogram”, ujarnya.

Masa panen buah kemiri dilakukan masyarakat hingga 2 kali dalam setahun. Biasanya pada bulan Mei dan Oktober.

Mantan kepala desa Lewopao (tahun 2002-2007) itu mengaku, kendala yang seringkali dihadapi masyarakat berkaitan jangkauan menuju lokasi perkebunan. Hasil kebun yang melimpah sulit untuk diangkut. 

“Banyak daerah yang tidak bisa dijangkau dengan alat transportasi. Belum ada jalan masuk. Ada yang harus menyimpan di desa-desa yang lebih dekat dengan akses menuju Waiwerang”, ujarnya.

Ia menambahkan untuk dapat mengangkut hasil kebun itu, para petani harus menyewah tenaga manusia. Ada yang dilakukan secara bergotong royong, namun itu tidak semua.
“Kadang-kadang dibantu oleh kelompok ibu-ibu, kelompok gereja. Namun sulit ketika orang lain juga mengurus hasil kebun masing-masing. Petani terpaksa harus mengangkut sendiri”, ujarnya sambil menghabiskan sebatang rokok di tangan.

Ketika ditanyai mengenai sistem penjualan hasil kebun, Nama mengatakan bahwa banyak dijual kepada penimbang. Para penimbang langsung datang ke desa untuk menimbang hasil. Ia mengaku bahwa perbedaan harga cukup jauh. 

“Tengkulak bisa “makan” banyak harga dari masyarakat. Hasilnya didrop ke pengusaha China”, ujarnya.

Lain Kemiri, Lain Kopra
Selain kemiri, hasil kopra juga dijual ke penampung yang sama. Pada diskusi sebelumnya, Anton Puhugelon mengatakan bahwa biasanya untuk hasil kopra di tempatnya (wilayah Witihama) yang dibawah ke Waiwerang tidak langsung ditimbang. Penampung melakukan uji kualitas terdahulu. Harga tergantung kualitas. Harga kopra setengah matang beda dengan yang sudah matang.

“Harga kopra hanya Rp 1.500 per kilo itu karena pemiliknya mau menimbang lebih awal. Ada yang  setelah selesai petik dan belah hanya menyiram dengan abu dapur dan langsung ditimbang, mereka (pemilik) tidak tunggu hingga matang. Kalau matang harga bisa mencapai Rp 2.000 per kilo."

“Ketika penampung (pengusaha China) di Waiwerang mencoba kopra yang hendak dijual, dan melihat hasilnya masih mentah, maka harganya lebih murah ketimbang kopra yang sudah matang”, ujarnya.

Saya menyambut cerita Anton dengan bertanya lantas dibawah ke mana kopra yang berkarung-karung itu kalau tidak jadi ditimbang?

“Mau tidak mau tetap ditimbang dengan harga seperti itu. Orang kesulitan untuk membawa pulang. Belum lagi biaya transportasi”, jawab Anton.

Memasuki musim hujan, produktifitas kelapa meningkat. Hasil kelapa menjadi lahan basah para tengkulak, maupun penampung besar yang ada di Adonara. Para penampung itu merupakan pengusaha China yang sudah sekian lama hidup dan berniaga di sana.

Sulit Disaingi
Anton dan  Nama mengakui bahwa pasar hasil bumi di Pulau Adonara didominasi oleh pengusaha China.

Nama mengatakan bahwa sebelum dan setelah menjadi kepala desa ia bekerja menjadi penimbang. Ia memutuskan untuk hengkang dari pekerjaan itu lantaran merasa selalu ditekan oleh pengusaha yang memiliki posisi lebih tinggi.

“Menjadi tengkulak tidak akan pernah bisa maju, posisi dan keuntungan dalam bisnis kita sulit berkembang, karena akan ditekan oleh pengusaha China”, ujranya.

Ia mengatakan bahwa orang bisa saja mencari jaringan bisnis selain dengan China, namun ketika terlihat berbagai upayah akan dilakukan untuk menghalangi.

Bagi Nama, kesulitan modal dan akses sarana-prasarana dari pengusaha lokal untuk menunjang bisnisnya menunjukkan ketidakseimbangan antara pengusaha China dan pribumi. Orang boleh mengelolah hasil komoditas dan menjual langsung ke daerah Jawa, namun resiko bisnis juga perlu dipertimbangkan dengan matang.

“Ada orang yang sudah mencoba dengan membawa hasil komoditi untuk dijual langsung di Surabaya, namun ketika mereka pulang ke sana, bisnis mereka tidak bertahan lama. Bangkrut.”, ujarnya.

Ia menilai pebisnis pribumi sulit untuk bersaing dengan China karena rendahnya kekuatan modal.

“Saya pernah bekerja sama dengan mereka (pengusa China) sebagai penimbang. Memang sulit melampaui mereka, karena kekuatan mdal kita lemah. Selalu tertahan”, ujarnya.

Anton mengatakan, hingga saat ini, sekitar lima kapal laut ekspedisi yang masuk ke Adonara maupun pulau di sekitarnya. Itu semua milik bekerja sama dengan pengusaha China.
Suasana terdiam sejenak dalam diskusi itu, ketika seorang calon mahasiswa baru asal Adonara memberi tanggapan.

“Kenapa pemerintah tidak mengadakan sarana seperti kapal untuk mengangkut hasil komoditas tersebut, agar bisa dijual langsung ke pabrik, tanpa perantara”, tanya Martin.
Anton kembali menjelaskan mengenai beberapa pengusaha baru dari India yang kini ikut meramaikan pentas dagang di Adonara.

Ia melihat bahwa, bisnis orang India yang berada di sana berkembang cepat karena strategi bisnis yang dinilai lebih manjur.

“Pribumi yang mau bekerja sama sebagai penimbang dengan pengusaha India. Mereka berani memberikan modal awal yang lebih banyak. Kalau China bisa kasih Rp1 juta, orang India bisa kasih Rp 15 juta”, ujarnya.

Sekarang pebisnis asal India sudah membuka sekitar dua gudang penampung yang cukup besar di Adonara. Satu di Wilayah Desa Kiwangona, satu lagi di dekat Wailingo.

Tidak hanya itu, di wilayah pantai Lewobuto, Desa Meko, sudah ada mesin pembuatan garam laut. Hasil produksi dipasarkan di Adonara dan luar daerah. Ada garam dalam bentuk batang, ada juga dikemas sasetan. Pabrik itu dikelolah orang India. 

“Hasil garam diangkut dengan truk kontainer yang besar. Kadang tidak bisa masuk ke lokasi karena ruas jalan yang sempit. Kalau pohon rendah dan mengahalangi juga ditebang. Jalan juga mudah retak”, kata Anton. 

Pengusaha China dan India akan menjadi rival bisnis yang bersaing ketat. Lalu bagaimana dengan pengusaha pribumi?

“Yah masih belum bisa bersaing. Bisnis masyarakat di sana masih lemah”, ujar Anton.

Wawancara dalam diskusi bersama Nama Libu, dan Anton Puhugelon.

Blok-O, Jogjakarta, 4 Juli 2013
Posting Komentar