Selasa, 13 Oktober 2015

KEMANA PARA PEMBERONTAK G.30 S/PKI PERGI KETIKA PAGI 1 OKTOBER 1965?

"Revolusi bukanlah pesta makan malam atau menulis sepotong esei", demikianlah kata Mao Tse Tung. Dan oleh karena itu, tidak boleh tidak, revolusi harus diselesaikan. Revolusi bukan pertama-tama suatu pesta atau hobi tapi suatu kerja besar, dengan biaya besar. Dan dalam hal perebutan kekuasaan, biaya itu adalah nyawa.

Harus dipastikan bahwa kita yang mengobarkan revolusi, harus tetap berada di atas untuk tak tergilas. Kalau tidak, habislah kita. Sebuah tindakan bunuh diri yang konyol. Dengan resiko yg begitu tinggi seperti itu, orang tidak main-main dalam segalanya : perencanaan, tingkat kekerasan, tingkat terornya. Sehingga dikatakan revolusi memiliki logikanya sendiri. Ia tak memiliki hati untuk berbelas kasih walaupun pada pacar sendiri kalau ia anti revolusi. Revolusi menghendaki ketuntasan dan kepastian bahwa lawan telah habis dihabisi dan kekuasaan berada sepenuhnya dalam tangan.

Tapi ketika pagi 1 Oktober 1965, kemanakah para pemberontak G.30 S/PKI itu pergi? Pasukan yang semalam tanggal 30 September begitu revolusioner, begitu beringas, begitu tertata rapih, begitu terorganisir dengan baik dan begitu berdisiplin tinggi sehingga berhasil menculik dan membunuh tuju jendral, Kemanakah mereka pergi pada pagi 1 Oktober 1965 itu?

Sejarah tak begitu jelas tentang ini. Logisnya, pasukan yang semalam itu akan bertempur habis-habisan, sebab menyerah berarti mati. Dan mereka tahu itu.
Mestinya sebuah pertempuran yang begitu seruh terjadi pada 1 Oktober 1965 ketika militer mencoba melakukan kontra kudeta. Tapi perkiraan dan logika seperti ini tak terbukti benar. Sebab pasukan yang semalam yang begitu gilang-gemilang dapat dengan sangat mudah ditaklukan.

Sepertinya tak ada itu pasukan yang revolusioner, tak ada itu pasukan yang begitu beringas, tak ada itu pasukan yang tertatah dengan rapih. Sepertinya tak ada itu pasukan yang begitu terorganisir, tak ada itu pasukan yang begitu berdisiplin tinggi. Sepertinya tak ada pasukan seperti itu yang memenuhi tuntutan sebuah revolusi yang digerakan oleh mereka. Karena mereka dengan sangat mudah ditaklukan cuma dengan satu gertak saja dari pihak militer.

Kolonel Soeharto muncul. Ia langsung mengambil alih komando. Keadaan dengan sangat mudah dapat dikuasai dan dikendalikan. Sementara Jendral Abdul Haris Nasution yang selamat dalam kudeta itu, yang merupakan satu-satunya pimpinan tertinggi di Angkatan Darat, tak berada pada pucuk pengambil keputusan untuk pengaman situasi atau pengendalian situasi ataupun untuk melakukan kontra kudeta. Tidak!

Kembali sejarahpun tak begitu jelas untuk itu. Kenapa hal ini bisa terjadi?
Kita semua tahu, keadaan dengan mudah dikuasai tanpa perlawanan berarti. Sejak saat itu PKI dan G.30S-nya terkubur mati. Soekarno kemudian jatuh. Soeharto kemudian naik jadi presiden. Sementara Abdul Haris Nasution terdepak bahkan dicekal puluhan tahun. Aneh.

Sementara itu kelihatan sejarahpun belum menulis kenapa itu terjadi? Kenapa ia tak memiliki "bulan madu" seperti pada hari-hari tuanya? Kenapa? Dan daftar terperinci para pemberontak tak pernah jelas sampai hari ini. Yang cuma jadi bintang adalah Kolonel Untung. Itupun sesaat kemudian redup atau diredupkan. Mati. Padahal dari dialah kita dapat mengorek semua hal tentang pemberontakan it: motifnya, otaknya, penunggangnya, kekuatannya dan kenapa mereka memberontak?

Dan kematian Untung dan kematian semua mereka yang penting-penting dari PKI pun tak jelas sampai hari ini. Setidak-tidaknya dalam suatu mahkama peradilan yang bebas dan adil tempat setiap orang berhak membela diri dan mengajukan bukti-bukti yang menunjukan ketidakterlibatannya. Asas praduga tak bersalah mestinya ada sehingga kebenaran dari kejadian yang sebenarnya dapat muncul. Sebuah bukti yang sahi, yang menunjukan bahwa PKI terlibat dengan G.30.S-nya untuk merebut kekuasaan, saya kira belum ada sampai hari ini. Dan berkali-kali Abdul Haris Nasution malah bilang, "Musuh utama kita adalah ketidakadilan". Ia tidak menyinggung-nyinggung komunis atau PKI.

Sejak 1965 sampai hari ini, pertanyaan-pertanyaan seputar G.30 S/PKI sepertinya tak dikritisi lagi. Karena sejak peristiwa itu kita disarankan untuk tak berpikir lagi tentang hal-hal diseputar G.30 S/PKI. Mereka memberontak, mereka mau merubah Pancasila dasar negara. Dan mereka sudah berhasil ditumpas. Pancasila terbukti sakti. Tak dapat diubah malah dapat membunuh calon pengubah. Selesai. Yang terpenting kita membangun dan terus membangun.

Kita jadi lupa bahwa politik dan kekuasaan bukanlah hal yang selalu hitam putih seperti yang dikatakan penguasa. Pancasila tidak membunuh orang sebab ia bukanlah manusia yang berkuasa. Penguasalah yan membunuh orang-orang. Dan kalau benar G.30 S/PKI itu benar-benar ada, itu adalah soal perebutan kekuasaan.

da Ama Nu'en Bani Tulit
Mutiara Dari Woka Belolon
Posting Komentar