Sabtu, 16 Januari 2016

JIKA PENELOPE CRUZ DAN/ATAU JULIA ROBETS TELANJANG

(Globalisasi Dan Siasat Kita)

Jika kita sulit memahami apa itu globalisasi, maka cari saja penjelasan dalam dunia mode: apa itu pakaian atau potongan rambut, maka menjadi sedikit lebih jelas "potongan" globalisasi itu.

Jika di Paris, yang terkenal sebagai kota mode dunia, orang cendrung menyukai warna merah dan potongan rambut cepak untuk model pria maupun wanita, maka di seluruh dunia semua orang muda cendrung memakai baju berwarna merah dan berambut cepak. Dunia pabrik kainpun dengan segera merubah warna-warna kainnya untuk menyesuaikan kecendrungan di Paris.

Kecendrungan ini kadang-kadang sulit dipahami karena pada dasarnya semua manusia itu tidak sama dalam segala hal : selera, gaya hidup, kekuatan ekonomi, pemikiran. Tapi kenapa kita menyukai sesuatu yang bersifat penyeragaman?

Ide "sense of belonging" memberi jawab. Bahwa "rasa termasuk ke dalam suatu kelompok", juga adalah kebutuhan, sama seperti orang butuh makan nasi, minum teh botol. Des, untuk menjadi sama dengan seorang model di Paris, dalam hal pakaian dan potongan rambut, juga adalah kebutuhan, Tanpa itu, mereka merasa asing di tengah dunia yang seragam. Dan lebih para lagi, merasa udik dan inferior.

Persoalannya, batas antara mengikuti trend dengan kelatahan menjadi sangat tipis, dan cendrung latah. Globalisasi bukan hanya berarti kita harus latah mengikuti trend yang berlaku di Paris. Globalisasipun memberikan peluang bagi setiap orang atau setiap bangsa berdiri di atas tradisinya, tanpa harus menjadi tradisional, dan memperkenalkan tradisinya itu kepada dunia dan mengatakan: inilah kami, kita memang berbeda.

Tanpa ini, suatu saat kita justru membayar ahli sejarah untuk merekontruksi tradisi kita yang kita tingggalkan dan mencari siapa kita di tengah penyeragaman. Karena kita tidak tahu siapa kita : orang Barat Pariskah, Orang Timur Tengah Arabkah, atau orang Timur Nusantara.

Lihatlah sebuah contoh kecil ini. Dalam pertemuan dunia dimana pemimpin-pemimpin negara dari berbagai negara berkumpul. Pemimpin negara dari India, Philipina, Arab Saudi, Eropa,dan bbrpa negara dr Afrika paling mudah dikenali karena mreka berpakaian sesuai tradisinya. Tetapi pemimpin atau pejabat-pejabat negara kita sulit dikenali sampai ada penjelasan dari MC bahwa seseorang yang baru disorot kamera tv itu pemimpin dari Indonesia, karena berpakaian ala Eropa.

Sebenarnya globalisasi itu tidak menghendaki penyeragaman yang berkiblat ke Barat atau kemanapun. Globalisasi menghendaki kitapun mengglobalkan tradisi kita sehingga dikenali dunia, jangan malah berlari meninggalkannya.

Jika kita berlari meninggalkan tradisi kita, dunia akan menangis karena kehilangan suatu kebudayaan yang pernah ada. Dan ini butuh usaha besar, dana besar untuk merekontruksinya. Globalisasi menghendaki kita menyumbang sesuatu yang baik dari kita ke dalam kehidupan global sehingga jadi sebuah mosaik yang lebih hidup, lebih berwarna dan lebih kaya.

Persoalannya, apakah setiap kita atau setiap bangsa mensiasati globalisasi dengan benar? Apakah setiap kita atau setiap bangsa sudah cukup "percaya diri" untuk mengatakan : inilah aku - inilah kami, kita memang berbeda? Apakah setiap kita atau setiap bangsa sudah cukup percaya diri untuk mengatakan itu? Negara kita melalui Presiden kita, Bapa Jokowi telah melakukan itu dengan memperkenalkan batik dan motif-motif Nusantara yang lain termasuk "nowin" Adonara ke dunia.

Nampaknya kita yang di bawa masih harus terus belajar untuk percaya diri dan "menjadi diri sendiri" untuk mensiasati globalisasi dng benar, agar kita tidak jatuh menjadi latah dan hilang dalam penyeragaman. Sebab, globalisasi itu bgitu dahsyatnya. Kalau tidak percaya, lihatlah. Di suatu hari kemarin, jika Demi Moore atau Eric Cantona membotaki kepalanya, maka ribuan bahkan jutaan anak muda putra dan putri di seluruh dunia membotaki kepalanya dan berkata kepada orang tua mreka dngn bangga bhw ini adalah mode rambut paling muktahir hari ini.

Globalisasi ini, bila kita kehilangan kekeritisan, jadi sangat menakutkan. Bila ada orang iseng yang punya duit banyak membayar Penelope Cruz dan atau Julia Robets untuk telanjang dan berlenggang di jalanan kota Paris dan New York sambil berteriak : "fredom of clothes”, hanya untuk membuktikan betapa dahsyatnya globalisasi dan kiblat globalisasi adalah disana, bukan di sini, apa yang terjadi? Apa yang terjadi dengan putra-putri kita yang terlanjur menjadi "sama dengan mereka dalam hal mode" sebagai suatu kebutuhan layak orang makan-minum dan menghirup udara? Apa yang terjadi?

Orang-orang kritis dan penuh percaya diri pasti tidak akan mau jadi "domba-domba dungu" yang digelandang ke sana kemari. Dan oleh karena kita bukanlah domba-domba apalagi dungu, maka mari kita buktikan bahwa kitapun bisa mensiasati globalisasi dengan benar. Dan bila Penelope Cruz dan atau Julia Robets jadi benar-benar telanjang, mereka telanjang sendirian. Dan mereka tidak sedang membuktikan apapun juga. Kecuali bahwa mereka memang benar-benar berkelamin perempuan. Apalagi, memperjuangkan sesuatu? Idealisme, tidak! Kebaikan bersamapun tidak.

da Ama Nu'en Bani Tulit
Mutiara Dari Woka Belolon


Posting Komentar