Minggu, 22 Mei 2016

MENGALI KEBUDAYAAN KAMPUNG ADAT ATAKOWA

Oleh: Marselinus B. Lewerang

Rasional

Tak ada pulau yang terbentuk sekaligus dengan orang-orang yang menempatinya. Dengan demikian penduduk pertama di sebuah pulau adalah imigran dari luar pulau, baik yang datang orang per orang maupun berkelompok. Karena setiap pulau  berbatasan langsung dengan laut maka di tempo dulu media yang membawa seseorang sampai ke sebuah pulau adalah  air dalam hal ini arus laut, rakit atau perahu.

Penduduk asli Lembata, termasuk suku yang mendiami kampung Atakowa juga berasal dari luar pulau. Sebagaimana tuturan lisan yang ditulis kembali Alm. Drs. S.T. Atawolo, disajikan pada seminar budaya Nobo Buto Leragere, 1996. Penduduk asli pulau Lembata datang melalui arus pengungsian besar-besaran dari pulau Nuha ata. Menurut Alm. Ambros Ole Ona,1989.  Nuha ata  adalah sebutan lain dari Lepan Batan.

Tuturan lisan alm. Bp Philipus Polo Lewerang, orang-orang asli Atakowa datang dari arah Bobu. Sebuah daerah sekitar tanjung Suba Wutun, pesisir  selatan Lembata. Konon katanya nenek moyang orang atakowa ini datang dengan sebuah perahu dari pulau lepan bahtan ruha rema. Mereka datang dengan membawa serta peralatan perang seperti blida (parang panjang dari baja) dan gala  (tombak baja), alat-alat pertanian seperti batu asa dan parang,  benda-benda ritual seperti gong dan bohpong (batu bulat yang dipercaya memiliki kekuatan magis).

Mengetahui asal usul penduduk  merupakan begian penting dalam upaya  menggali kebudayaan asli kampung Atakowa. Melalui ini dapat dipahami tentang apa yang menjadi inti kepercayaan, adat isti adat serta sistem pelapisan sosialnya. Memang tidak banyak dokumen tertulis yang mengisahkan tentang kampung ini tetapi  dari tuturan lisan dan catatan-catatan lepas terkait kebudayaan lamaholot dapat diidentifikasi kesinambungan antara  kejadian lampau termasuk situs-situs kebudayaan yang di tinggalkan dengan peradapan sekarang. Atakowa adalah kampung kecil dalam satuan budaya nobo buto dengan sistem adat  yang sangat kuat pengaruhnya terhadap hampir semua sisi kehidupan warga kampung. Dari tuturan lisan dan beberapa situs peninggalan seperti kotak batu di kampung  Lewoeleng, sisa-sisa peninggalan di kampung lama Lewu  tuang dan makna tersirat dalam penggalan syair: kowa liku ledo, ledo todo hinga (Atakowa melindungi Ledoblolong, membuat ledoblolong menetap) diketahui bahwa Atakowa adalah kampung tua dan pertama  di Leragere.

Antara Orang Awan dan Kampung Berkabut
Unsur bawahan terdekat dari  kata “Atakowa” adalah ata dan kowa. Keduanya merupakan kata benda. Dalam bahasa lamaholot ata artinya  orang, sedangkan kowa artinya  awan.  Dari struktur morfologinya ini nama  atakowa  dapat dijelaskan sebagai kampung yang di huni oleh orang-orang yang bersal dari awan.  Menjadi pertanyaan, mungkinkah manusia itu berasal dari awan ?
Secara geneologis penduduk asli atakowa merupakan pecahan  kelompok pengungsi  yang datang dari  pulau Nuha Ata. Sebagaimana catatan lepas   Almahrum  Ambros Oleona (1989), Nuha ata  adalah sebutan lain dari Lepan Batan. sebuah daratan luas antara pulau Alor dan Lembata. Daerah tersebut diperkirakan tenggelam karena bencana hebat gelombang pasang. Dampak dari mencairnya es kutub pada waktu itu. Peristiwa tenggelamnya daratan inilah yang menyebabkan terjadinya pengungsian  besar-besaran. Orang-orang Nuha Ata, sendiri-sendiri atau berkelompok pergi meninggalkan kampung halaman, mencari tempat hunian baru (bang pong, leka duli). Dari tuturan ini jelas bahwa penduduk asli Atakowa bukan berasal dari awan. Lalu mengapa kampung ini dinamakan Atakowa ?

Atakowa adalah salah satu dari delapan kampung hunian di wilayah Leragere.  letaknya di atas ketinggian 500 meter, tepat di  puncak bukit dengan lereng yang panjang dan landai. Posisi topografi ini sangat berpeluang untuk terbentuknya kabut lereng (up slope fog). Jenis kabut seperti ini tidak  temporer, biasanya tetap dan muncul dalam periodisasi waktu tidak berubah. Kabut lereng merupakan ciri khas kampung Atakowa. Entah musim hujan atau kemarau kampung di puncak bukit ini senantiasa diselimuti kabut tebal.

Atakowa memang kampung berkabut.  Hampir 16 jam setiap hari seluruh areal kampungnya  tertutup kabut. Kisaran waktunya antara pukul 16.00 (soreh hari) sampai pukul 07.00 (pagi hari). Pada jam-jam tersebut kampung yang letaknya paling tinggi dibanding kampung-kampung lain di leragere ini sulit terpantau sistem navigasi. Sepanjang kabut masih menyelubungi  kampung  sosok  orang tidak terlihat jelas.  Orang-orang yang berjalan keluar  meninggalkan kampung terlihat seolah-olah muncul dari dalam gumpalan awan. Gejala ini merupakan akar asal muasal penamaan kampung Atakowa. Orang yang berjalan  menerobos keluar  kabut tebal dianggab baru keluar dari gumpalan awan.

Ina Kepakiri Ama Wuanbala
Dituturkan  turun temurun bahwa ketika perahu tumpangannya rusak parah dan  pelayaran  tidak bisa dilanjutkan lagi rombongan pengungsi  Nuha ata terpecah menjadi tiga kelompok kecil. Konon katanya tempat kejadian tersebut diperkirakan sekitar  tanjung suba wutun. Peristiwa ini punya hubungan tuturan dengan terbentuknya tepi). Kelompok pertama dan barang bawaan berupa layar dari daun gebang, alat pendayung dan wuwo (alat penangkap ikan) meneruskan perjalanan menyusur sepanjang pantai ke arah Barat.  kelompok kedua menaiki lereng sekitar teluk waiteba dan liang kape. Kelompok ketiga  memilih arah  melalui  kali sebelah Selatan tepi. Sebagaimana tuturan, barang bawaan kelompok kedua dan ketiga itu sama, yakni berupa alat tenun (ebo, hapi dan huri), batu asa (elu), blida (semacam parang panjang yang digunakan untuk berperang) dan tombak.
Nenek moyang orang Atakowa termasuk kelompok ketiga. Jejak perjalanannya di mulai dari muara, bergerak maju  mengikuti arah  datangnya aliran air. Tentang pilihan jalan susuran ini terungkap melalui penggalan syair :
Lau dai lungu dai
Wae uro mitong tena tahpo balang
Geri gawa tale dori lungu hipong
Moi wae ni mo leko moi wahto ni mo seda
Artinya :
Dari laut dari ujung kali; muara luas perahu pelepah kelapa; naik berpandu tali susuri kali sempit; hindari genangan air, injak di atas batu.
Mencermati kondisi geo fisik sekarang, muara yang dimaksud sebagai  titik awal perjalan adalah daerah genangan air payau yang berhubungan lansung dengan lungu muda. Sebuah sungai kecil yang terbentuk dari penyatuan antara ruas kali belu buto dan mawe.  Pilihan perjalanan selanjutnya  adalah  menyusur  belu buto hingga berakhir di mata air lewu reu, tepatnya sekitar ruas kali mati kepakiri.

Rupanya di kali mati kepakiri rombongan menghadapi jalan buntu. Ada  lereng terjal yang  sulit didaki. Tetua rombongan lalu meminta untuk di buatkan sebilah tombak dari batang bambu (rehpang). Tombak itu lalu dilemparkan ke arah mata air Lewu reu. Sebagaimana tuturan, tombak yang dilempar tetua tersebut  menembus liang mata air, terus merambah dalam tanah sepanjang punggung bukit hingga terpelesat keluar di pucak bukit. Rombongan dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan mengikuti alur tombak.

Lubang  keluar tombak bambu  diperkirakan sekitar pelataran hutan larang   Nara uha. Sekarang bekas lubang itu ditutup dengan timbunan batu. Orang atakowa percaya  bahwa jika tumpukan batu tersebut dibuka bisa terjadi bencana hebat air bah. Dari dalam liang  menyemprot keluar air laut  bersama  sosok-sosok manusia baru dengan macam-macam karakter.
Tentang peristiwa tombak bambu ini terungkap melalui penggalan syair :
Ina kepakiri ama wuanbala
Gu rehpa pou pele gu gala lebo lele
Lewu tuang sa’rang ulung
Bre bao larang wulan lodo hodi hea
Artinya :
Ibu kepakiri bapa wuanbala; tombak bambu tombak tembagaku pasti tembus pasti melintas; kampung tua hunian lama; turun dan tangkap dari atas beringin putih. Syair ini lebih  sering dipakai sebagai mantra adat. Rangkaian kata di setiap lariknya memiliki makna bersayap sehingga agak sulit ditafsir.
Dari penggalan syair “Ina kepakiri ama wuanbala” dapat diidentifikasi bahwa  ada   tokoh yang berperan sebagai  induk semang dan leluhur orang Atakowa. Penggalan ini merupakan sebutan untuk nama sepasang suami istri. Kedua sosok inilah  yang menurunkan suku-suku asli Atakowa. Ina Kepakiri adalah  ibu yang agung, yang melahirkan sosok manusia baru. Ama Wuanbala adalah bapak yang mengayomi, yang menjadikan sosok manusia baru itu bermartabat.

Sebagaimana keterangan lisan dari tetua suku Ole pu’e, Alm. Bp Paulus Lewo, Orang Atakowa mempunyai tokoh kebagaan yang menjadi simbol dan nama besar kampung, yaitu Ina kepakiri dan Ama Wuanbala.  Semua bentuk ritual adat selalu di tujukan kepada kedua Tokoh ini. Diyakini bahwa kedua leluhur ini memiliki peran sebagai perantara dalam hubungan vertikal antara manusia di bumi dengan Ama Lera wulan Tana Ekan.

Ditilik dari struktur kekuasaan dan budaya animisme kedudukan  Ina Kepakiri dan Ama Wuanbala langsung di bawah Lera wulan tana ekan. Benediktus Kada Koten, 1979. Dalam studi tentang Tumbuhnya Kepercayaan Asli Masyarakat Lewolema, mendeskripsikan Lera wulan tana ekan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, sang pencipta yang menjadikan langit dan bumi.
Wujud Ina Kepakiri Ama Wuanbala dalam sistem  ritual  adat kampung Atakowa  disimbolkan dengan  lempengan batu/batu ceper dan tugu batu. Batu ceper = simbol tokoh perempuan sedangkan tugu batu = simbol tokoh laki-laki. Kedua simbol ini   biasanya dipasang berdampingan di depan bagunan O’e (rumah kecil diatas empat tiang yang digunakan untuk menyimpan benda-benda ritual seperti elu = batu asa; bohpong = batu bulat yang dipercaya memiliki kekuatan magis dan gong keramat). Situs-situs ritual ini sekarang tidak ditemukan lagi karena telah dimusnahkan bersamaan dengan masuk ajaran agama Katolik ke wilayah Leragere.

Dalam tradisi adat lamaholot situs ritual berbentuk lempengan atau tugu batu disebut nuba nara. Sebagaimana deskripsi Benediktus Kada Koten, nuba nara  merupakan simbol yang mengambarkan sosok leluhur sekaligus menunjukan wujud yang maha kuasa, yang membuat segala sesuatu ada.

Blowe, O’e, dan Bas’a
Dengan menjejaki alur tombak bambu akhirnya rombongan pengungsi, nenek moyang orang Atakowa tiba dengan selamat di pelataran Nara Uha. Daerah ini berbatasan langsung dengan sisi Timur kampung Atakowa sekarang. Geo fisik wilayahnya termasuk hamparan datar antara dua puncak bukit kecil (owa lewung dan owa tobo). Luasnya kurang lebih 1,5 Ha. Hamparan nara uha didominasi oleh beberapa jenis pohon khas hutan tropis dan tidak ada lapisan hijau penutup permukaan tanah. Ketinggian tajuk hutannya diperkirakan antara 15 – 25 meter.

Secara ekologi formasi hutan nara uha merupakan kantong perangkap hujan. Letak  topografi dan struktur hutannya menyebabkan daerah ini menjadi pusat kondensai uap  air. Sejak dulu hingga sekarang orang-orang atakowa percaya bahwa nara uha adalah sumber air hujan yeng memberikan kehidupan kepada aho manu bine lame (suku, kerabat dan seluruh peliharaan) kampung Atakowa. Hutan nara uha dianggab  keramat, oleh karena itu harus dilindungi turun temurun. Kekayaan hutan seperti kayu, batu dan berbagai jenis hewan di dalamnya tidak boleh diambil atau dipindah tempatkan  baik sengaja maupun tidak disengaja. Diyakini bahwa hutan larang ini memiliki kekuatan mistik yang bisa  melindungi kampung dari bala bencana.

Sebagaimana tuturan dari tetua suku Lape, alm. bp. Thomas Lusi, orang-orang tempo dulu punya kebiasaan untuk berperang dan merebut tanah kekuasaan, oleh karena itu maka pilihan tempat untuk membangun kampung harus benar-benar terlindung dan sulit dijangkau musuh. Pertimbangan inilah yang mendorong  nenek moyang orang Atakowa memilih puncak bukit Bawa lire sebagai tempat tinggal. Letaknya di sebelah Barat kampung Atakowa sekarang. Karena jumlah warga suku kian hari bertambah banyak sementara luas puncak bukit Bawalire tidak seberapa maka kampung lalu di pindahkan ke lereng sebelah selatan bukit Atakowa. Daerah ini sekarang dikenal dengan sebutan Lewu tuang (kampung tua).

Religiositas dalam tata peradapan nenek moyang orang Atakowa sangat kuat. Hampir seluruh aktivitas hidupnya selalu dikaitkan dengan aspek religi. Hal ini terbukti melalui adanya bangunan dan tempat-tempat  yang dijadikan sebagai pusat ritual kampung. Pusat ritual kampung tersebut letaknya  di luar kampung,  berhubungan langsung dengan hutan larang nara uha. Jumlah titiknya Ada  tiga, masing-masing disebut : Blowe,  o’e,  dan  bas’a. Sketsa tata letak dari masing-masing titik seperti di bawah ini.





Dengan memandang nara uha sebagai benteng  pelindung kampung maka blowe merupakan pintu masuknya. Dalam bahasa setempat biasa juga disebut lara wuhtu (ujung jalan).  Blowe  ditandai dengan sebuah tiang kayu dan meja batu sebagai tempat sesajian. Ritual yang biasa dilakukan di blowe,  antara lain :  hapa huang (bertanya; menyelidiki)  dan lo tiwa ohka tuhte (tolak buang, kejar sampai menghilang).


Ritual  Hapa huang dilakukan pada saat menyambut tetamu kampung, baik kelihatan (nyata) maupun tidak kelihatan (roh). Tujuannya untuk menanyakan asal usul serta maksud  kedatangan. Bila asal usul dan maksud kedatangannya baik maka tamu  akan disambut dengan suka cita. Sebaliknya bila bermaksud kurang baik maka ia dipersilahkan dengan hormat untuk kembali ke tempat asalnya.

Bahan kelengkapan yang sering digunakan dalam ritual hapa huang antara lain: buah siri, buah pinang, pucuk lontar kering , daun tembakau kering, tuak (minuman  nira   lontar, kelapa atau enau yang mengandung sedikit alkohol) dan braha (gumpalan kecil kapas  putih).

Sebagaimana penjelasan lisan alm. Bp. Paulus Lewo, Upacara Hapa huang harus dihalui dengan pengucapan syair/mantera sapaan seperti berikut ini :
Mo tuang ubung eting  mo rasa sina lau
Bopihtang mahtang dola lolo
Tede ni ame denge gahing ni ame hodi
Lewu ami owa tobo lelang ami bao lolong
Artinya : Engkau tuan dari Timur, raja dari Barat; di pintu gerbang palang utama; katakan kami dengar gagaskan kami terima; kampung kami owa tobo tanah kami bao lolong.

Setelah pengucapan matera sapaan para tamu dibesihkan dari pengaruh jahat, halangan atau rintangan yang tidak diketahui penyebabnya dengan  bhraha. Upacara pembersihan   ini disebut lew’a. Jumlah braha yang digunakan tujuh buah.  Jumlah ini disesuaikan dengan sasaran masing-masing : 1) ina ama (roh leluhur); 2) nihto woo (roh yang lepas dari raga dan tak dikenal); 3) praing pedateng (arwa orang mati); 4) nihtung nebing (jin penghuni tanah air dan batu); 5) duli paling (jin penghuni pohon-pohon dan hutan); 6) wera belong (roh pembawa bencana berat); 7) wera kana (roh pembawa bencana ringan). Ketentuan jumlah ini berlaku untuk semua upacara tolak bala. 

Siri, pinang, tembakau dan tuak baru  boleh disuguhkan setelah upaca lew’a. Biasanya upacara hapa huang  diakhiri dengan penyambutan tamu dengan tari-tarian meriah (Soga tehte).  

Upacara  di blowe lainnya adalah lo tiwa ohka tuhte. Dilakukan dengan tujuan untuk meminta pergi atau mengusir roh jahat yang mengganggu orang per orang atau seluruh kampung. Proses ritual biasanya disertai dengan pengucapan syair/mantra tertentu dengan  bahan-bahan sesaji antara lain : braha, beras merah, telur ayam dan  anak ayam.

Berikut ini adalah salah satu penggalan syair/mantra dalam ritual lo tiwa ohka tuhte
Mo mala  maa pinang,  ulu pero
Mo mala nihtung nebing, duli paling
Oka, molang, nihto woo, praing pdateng
Huba wera belong, wera kana, nu pahti bingi
Bo pihtang mahtang dola lolo, ebang puse la’wang pue
Pong mai be mu uli alang lewu mara
Ome kowa lama bothtung bao lolong bangan
Ami ina kepa kiri ama wuanbala
Ami limang laeng laeng, eting rega-rega
Artinya : Engkau serupa swanggi, seten pembunuh; Engkau serupa jin penghuni tanah, air dan batu, penghuni pohon-pohon dan hutan; tukang santet, dukun jahat, roh penasaran dan arwa orang mati; Di pintu gerbang palang utama, di atap rumah  alas dinding; Ayo pergi, pulang ke tempat asalmu; kami orang kowa lama bohtung bao lolong bangan; tangan kami bersih, kepala tak punya beban.


Titik  ritual kedua adalah o’e.  Kekhasan di titik ini berupa adanya   bangunan rumah kecil di atas empat tiang kayu yang disebut O’e. Sketsanya seperti di bawah ini : 


Fungsi  O’e antara lain : 1)  Tempat menyimpan benda-benda pusaka  seperti gong pemanggil hujan dan bohpong; 2) Tempat para pemangku adat menjalani tapa brata. Dalam bahasa setempat disebut bua (memencilkan diri, tidak makan dan tidak minum selama 1 – 3 hari).


Ritual yang biasa dilakukan di O’e adalah leta urang ahpung (memohon turun hujan), geu lia mura mabo (semacam sumpah adat dengan taruhan nyawa), dan  ohka tuhte biwang serang (Semacam ritual pernyataan perang). Dari ketiga ritual ini yang paling polpuler dan dilaksanakan hampir setiap tahun adalah leta urang ahpung. Prosesi ritualnya dilakukan sebagai tahap awal dalam persiapan tanam menanam.

Titik ritual kampung yang ketiga adalah Bas’a. Sesuai dengan namanya bas,a merupakan sebuah bale-bale besar yang diberi atap. Fungsinya sebagai tempat berkumpul para lelaki kampung untuk merencanakan sesuatu kegiatan besar yang melibatkan seluruh warga. Dalam kondisi darurat perang bas’a juga digunakan sebagai tempat tidur angkatan perang  sebelum pergi dan setelah kembali dari medan perang. Sketsa bangunan bas’a seperti di bawah ini :




Karena fungsinya sebagai tempat berkumpul maka bas’a sebuah lapangan terbuka yang disebut namang. Arel terbuka namang tempat diselenggarakan hayatan kampung dan bersukaria yang diekspresikan dengan tarian masal beku, kewahela dan oha.

Ritual kampung yang biasa dilakukan di Bas’a adalah muhpu hani ame rago. Ritual ini dilakukan dengan tujuan untuk mengumpulkan seuruh warga kampung diikuti dengan pendataan masing-masing anggota klan.
Posting Komentar