Minggu, 14 Februari 2016

SUDAH SEHARUSNYA KITA KEMBALI LALU MENAPAK LEBIH TINGGI (Bagian 1)

Senja dikala itu begitu indah menghiasi perkebunan di kampung halamanku. Mata tak jemuh-jemuh menikmati kebun beserta segalah isinya. ‘’Alangkah indahnya alam ciptaan-Mu Tuhan.” Demikian perkaatan yang kusampaikan dalam lamunanku.

Tak terasa malam menghampiri, menyadarkanku dalam lamunan indah. Akhirnya kujajahkan kaki pada setapak nan kecil berkerikil di kelilingi pepohonan kelapa menyaksikan langkahku. Seketika tiba hembusan angin bercampur aduk dengan kicauan burung menjadi satu; menghasilkan suara harmonis menghantar perjalanan pulangku.

Kampungku merupakan daerah agraris; daerah dengan limpahan hasil pertanian dan perkebunan. Masyarakat hidup dari lahan ini sampai bisa menyekolahkan anak-anak hingga ke jenjang perguruan tinggi. Hebat bukan? Bukan hanya itu saja, kampungku juga menyimpan banyak keistimewaan yang lain seperti keragaman agama, suku dan budaya yang membuat kampungku menjadi berwarna seindah pelangi di kalah hujan berlalu. Perbedaan adalah kekuatan masayarakat selama proses kehidupan berlangsung; ’’berbeda tapi tetap satu’’. Toleransi yang begitu tinggi dan memegang teguh nilai kekeluargaan yang lulur menjadikan kampungku bagaikan surga dunia.

Waktu terus bergulir, tahun terus berganti, haripun berlalu. Datanglah sebuah masa yang dikenal dengan modernisasi; “hi serem.” Masa ini datang menggerogoti zamanku dimana semua hal yang kunikmati dulu perlahan mulai habis dikulitinya. Tak kujumpai lagi jengkal, terima, inggo, kasti dan masih banyak yang lainnya. Jengkal dan terima adalah permainan kanak-kanakku dulu waktu masih berusi 6-15 tahun. Apakah kalian masih ingat permaianan tersebut? Namun kini hilang ditelan modernisasi. Anak seusiaku dulu sekarang lebih memilih bermain handphone dan iphone, sehingga membuat mereka menjadi makluk individualis. Bukan hanya itu saja masa ini datang dan mulai merapuhkan keharmonisan dan kekeluargaan masyarakat.

Budaya warisan para leluhur teracam oleh masa ini; tak ada kebersamaan, tak ada saling membantu dan semua menjadi invidualis. Jelas terlihat masyarakat di kampungku mulai bersaing dan berjuang keras untuk masa depan anak mereka. Semua bersusa payah membanting tulang, mengeluarkan keringat tanpa henti agar anak-anak mereka bisa sukses dikemudian hari. Cara yang dilakukan masayarakat di kampungku adalah menyekolahkan anak-anak mereka setinggi mungkin. Dengan anggapan bawah semakin tinggi sekolah yang digapai semakin tinggi pula kesejataran yang didapatkan. ’’Anak, sekolahlah dengan benar dan baik agar kalian tidak seperti kami yang tiap harinya berkebun.’’ Pesan orang tua kepada anak-anak mereka sebelum berangkat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Apakah anda juga mendapat pesan seperti ini? Ya, mungkin hampir semua kita mendapatkannya.

Mindset yang tercipta pada masyarakat kami bahwa untuk hidup lebih baik adalah menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) karena dinilai pekerjaan ini lebih ringan dan mempunyai gaji tetap. Kompetisipun dimulai; “ayo bro, bersiap-siap yang kalah akan tersikir”. Masyarakat yang melanjutkan sekolah (kuliah) dari tahun ke tahun terjadi peningkakatan. Persaingan semakin ketat dan kompetisi semakin memanas. “Woalah kaya piala dunia aja nih.”Semua ketakutan dan mulai belajar segiat mungkin untuk mendapatkan skil dan pengetahuan yang mumpuni. Namun keheranan muncul di benakku; “kok yang kuliah jurusannya kesehatan dan keguruan semua.Terus nanti mereka mau kerjanya dimana sedangkan kampungku memiliki rumah sakit dan sekolah yang terbatas”. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi nantinya?

Dan pada akhirnya tiba masa dimana semua orang tak menyadari akan kedatangngannya; “pengangguran.” Ya..pengangguran kini kampungku menjadi lahan para sarjana merinti piluh, membasu tangis dan menutup tawa. Pengangguran merebak luas hingga sebagian tidak sanggup menahannya dan memilih untuk mengaduh nasib di tanah rantau. Bagaimana mau sanggup jika para sarjana ini mempunyai keterbatasan lahan untuk bekerja. Keterbatasan ini membuat para sarjana menjadi tenaga suka rela yang bekerja tanpa dibayar; ”woalah-woalah. Semakin tinggi sekolah kitakan semakin sejatrah kok terbalik sih”.  Mau tidak mau ya dijalanakan oleh para sarjana di dikampungku dari pada dibilang tidak berpendidikan. Lahan yang masih mungkin menampung mereka adalah sektor pertanian dan perkebunan namun sayang mereka tak menyukai pekerjaan ini karena berstatus orang yang punya pendidkan tinggi. ”Gengsi bro! Kita kan orang yang berpendidkan. Ya udah. Nganggur aja dulu ya, bro!”

Hiruk-piruk suasana di kampungku membuat masyarakat mencari jalan pintas mendapatkan pekerjaan yang layak sesuai basis pendidikan. Cara yang di tempuh adalah mendekatkan diri pada orang-orang yang mempunyai pengaruh di daerah agar bisa diberikan pekerjaan. “Wani piro, bro?” Inilah realita di kampung halamanku. Skil dan keterampilan menjadi persyaratan terakhir dalam memperoleh kerja. Persyaratan pertama adalah “orang dalam.”. Benarkan? Mungkin di kampung anda juga seperti ini. Budaya yang memalukan dan mampu merusak karakter masyarakat. “Keluarga ya keluarga jangan dibawakan soal urusan pekerjaan, karena kita punya hak yang sama.”

Sepintas muncul dari mulutku kepada temanku yang baru pulang melamar kerja. Begini cerita temanku: “selamat siang pak. Saya kesini mau melamar kerja. Apakah masih ada lowongan?” Jawab si pegawai,“siapa yang menyuruhmu kesini, nak?” Temanku bingung dan hanya memberinya surat lamaran lalu pulang. Beginilah kampungku sekarang.

Kampungku dikenal dengan sektor primernya yaitu pertanian, perkebunan dan perikanan dan sektor ini banyak menyerap tenaga kerja usia produktif. Namun sayang,  tenaga kerja yang terserap disektor ini banyak yang tidak mempunyai ijazah dan hanya tamatan sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama, yang membuat keterbatasan pengetahuan mereka dalam memperluas lahan yang ada. Inovasi yang diharapkan untuk mampu mengubah kehidupan mereka tak kunjung tiba karena keterbatasan pengetahuan. Keterbatasan ini dimanfaatkan oleh para tengkulak untuk menabur benih pada sektor ini. Tengkulak sesuka hati menaruh harga pada hasil komoditi. Masyarakat mau tidak mau harus menjualnya meski dengan harga yang rendah sebab masyakat mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi untuk melangsungkan hidup.

Kita dilahirkan dari keluarga petani, dari kecil kita suda belajar berkebun. Sudah seharusnya kita kembali ke kebun dan mengembangkan potensi yang ada. Kenapa? Karena potensi terbesar daerah kita adalah pada sektor primer dan wajib kita kembangkan. Sebab orang-orang yang terlibat didalamnya adalah orang tua kita; bukan berarti kita kembali ke kebun dan menjadi petani. Namun bagaimana tanggung jawab kita terhadap para petani yang sudah bersusah  payah menyekolahkan kita dari hasil pertanian dan perkebunan. Bersambung.........

Yanto Sait
Ketua Generasi Muda Adonara (GEMA) Surabaya
Posting Komentar