Selasa, 23 Februari 2016

SUDAH SEHARUSNYA KITA KEMBALI LALU MENAPAK LEBIH TINGGI (Bagian 2)

Pagi ini mentari tak menampakan wajahnya lantaran malu melihat sekawanan awan yang gagah perkasa menari menyelimuti bumi. Tak lama kemudian hujan turun menyapa kampungku, membasahi perkebunan yang telah lelah menanti kehadirannya. Keresahan masyarakat kami akirnya berunjung dan para petani mulai sibuk mengolah lahan mereka.

Aktivitas berkebun sangat rutin dilakukan masyarakat selama musim hujan berlangsung. Kondisi musim  sangat menentukan nasib para petani untuk bisa mendapatkan hasil yang melimpah. Hal demikian berbanding terbalik dengan masyarakat di kota-kota besar. Musim hujan justru menjadi ancaman masyarakat perkotaan karena akan mendatangkan banjir hingga melumpuhkan perekonomian setempat. Kampungku luar biasa bukan? Lebay nih...Hehe

Pekerjaan para petani di kampungku masih bergantung pada musim sehingga pendapatan mereka juga tergantung dengan musim yang ada. Biasanya para petani  memanen hasil pertanian  setiap tiga bulan sekali. Belum lagi alam yang tak bersahabat membuat produktivitas  menurun dan pendapatanpun jelas menurun. Kondisi ini mulai terlihat beberapa tahun belakangan. Perubahan musim yang tidak jelas membuat para petani harus menelan pil pahit. Mereka tak berdaya mengembangkan lahan yang ada dengan keterbatasan pengetahuan dan  modal yang dimiliki.

Bumi terus berputar zaman terus berubah teknologi terus berkembang. Fasilitas mulai mudah ditemukan. Namun keresahan masyarakat di kampungku tak kunjung usai. Terlebih lagi  melonjaknya harga sembako (kebutuhan pangan) menambah beban keresehan para petani yang pada dasarnya mempunyai pendapatan dibawah standar kebutuhan.

Pemerintah daerah yang menjadi harapan  atas problem yang dialami masyarakat memilih diam tanpa memberikan solusi terkait masalah para petani. Pemerintah hanya memberi janji bukan bukti. Para petani justru harus berusaha sendiri untuk mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi. Begitu malang nasib petani kami. Mungkinkah anda prihatin dan mau membantu para petani? Ya benar. Sudah seharusnya kita sadar dan berbuat sesuatu untuk para petani sebab dari merekalah kita bisa mengisi perut kita hingga saat ini.

Pemberdayaan masyarakat oleh pemerintah daerah memang ada.  Hanya saja tidak sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Program permberdayaan yang dilakukan pemerintah hanya dibuat agar dibilang punya kerjaan. Tindakan ini dilaksanakan hanya sebagai tameng untuk menutupi kebusukan. Tidak ada perubahan yang muncul dan keresahan masyarakat masih saja sama. Sekilas penetrasi yang luar binasa dari pemerintah daerah di kampungku.

Breng..breng..pittpitt..Terdengar suara berisik kendaraan bermotor dan klakson mobil yang memporak-poradakan suasana sekitar. Kelap-kelip lampu yang berada hampir disetiap sudut jalan menentukan identitas sebuah kota. Ditempat inilah para anak muda di kampungku melanjutkan studi strata satu  (kuliah). Menyeberangi pulau dan mengarungi samudra untuk menimbah ilmu. Seiring bertambahnya usia dan pengetahuan membuat sekelompok mahasiswa dari kampungku mulai peka dengan kondisi yang terjadi di kampung halaman. Kegelisahan datang menghantui sekelompok anak muda ini dan kesadaran perlahan mulai muncul dari hati nurani mereka untuk sebisa mungkin membantu dan menjawab keresahan yang dialami masyarakat di kampung halaman.

Rutinitas perkulihan yang dijalani tak mengurung niat mereka untuk glekat lewotanah (berbakti untuk nusa dan bangsa). Akhirnya terbentuklah sebuah organisasi daerah yang menghimpun segenap kaum muda dari kampungku yang berada di kota tersebut. Lewat wadah ini kami mulai sering bertemu, melakukan diskusi hingga menganalisa kondisi yang terjadi kampung halaman.

Dari keseringan berkumpul dan berdiskusi, sekelompok anak muda ini kemudian bersepakat untuk melakukan sebuah tindakan kongkrit melalui kegiatan yang diberi nama “Paket Pulang Kampung” sebagai solusi menjawab permasalahan yang dihadapi masyarakat di kampungku. Tindakan nyata yang dilakukan sekelompok anak muda ini patut diberi apresiasi.Dengan kegiatan seperti ini, keresahan masyarakat perlahan akan terbantu. Resah gelisah yang selama ini dirasakan bisa berujung. 

Mahasiswa (anak muda) adalah golongan berintelek, kaum revolusioner dan di pundak mereka masyarakat menaru tanggung jawab. Di tangan merekalah masyarakat menaru harapan dan di generasi merekalah perubahan itu datang. Ini bukan menyangkut kesadaran namun inilah takdir  sebagai mahasiswa. Pada hakikatnya ini sudah menjadi tugas dan amanat yang harus dijalankan oleh kita; para mahasiswa. Mari menapak lebih jauh untuk hidup yang lebih baik.

Yanto Sait
Ketua Generasi Muda Adonara (GEMA) Surabaya
Posting Komentar