Minggu, 07 Juni 2015

CATATAN IBU SEORANG DEMONSTRAN

Angin dan waktu bersetubuh, menerpa menuakan penjaga malam. Di batas kekelaman hari-hari berteriak mencari pagi. Bendera-bendera setengah tiang perlawanan berkibar dari rumah-rumah penduduk dan api amarah ketidakadilan membakar langit. Orang-orang telah bangkit dari 32 tahun malam penindasan dengan 32 tahun energi amarah yang terpendam mendentangkan lonceng kematian untuk penjaga malam.

Anak-anak muda bergelombang, bergerak. Perlawanan dikibarkan di puncak-puncak harapan luhur dan tekad menggumpal : "padamu negri jiwa raga kami". Di sini, revolusi sementara menggeliat, di jalan-jalan ! Sebab rumah besar di Senayan itu sudah lama jadi tempat pelacuran. Tetapi kepada mereka tentara-tentara disiagakan dan bedil-bedil ditembakan. Lalu yang terjadi kemudian: tubuh-tubuh rubuh, menggelepar, mati! Darah membasahi jalan sejarah, menggenangi ceruk-ceruk kesadaran kita : betapa di sini manusia telah kehilangan harga dan kebiadaban telah jadi peradaban orde-orde yang berkuasa. Sontoloyo!.

Anakku, di pagi itu ketika kau pergi, kuingin menciummu sekali lagi, mendekapmu lama-lama dan berdoa ke langit semoga Tuhan melindungimu. Jauh di lubuk hati kuingin kau di sini, tak terbang membumbung menentang mara bahaya. Tapi kasih ibu mesti melepasmu pergi untuk tumbuh menjadi laki-laki pemberani yang pergi menyongsong maut sekalipun, dengan tersenyum. 

Pagi itu pun kuingin katakan padamu, jika kau percaya bahwa bedil-bedil itu tidak akan ditembakan, maka kau keliru. Dimanapun di dunia ini, ketika kekuasaan menjadi sesuatu yg begitu menguntungkan dan bila para pemegangnya adalah justru para penjahat, ia akan selalu dipertahankan dengan cara apapun. Termasuk menembakan bedil-bedil itu yang pelurunya dibeli dengan uang dari pajak ibu bapamu. Pagi itu Tiannanmen* menari-nari di pelupuk mata. Tapi sekali lagi, ibu mesti memberikan dukungan, meniupkan doa-doa disayapmu, menghembuskan semangat di nadimu dan dengan tersenyum berucap tegar, " Pergilah anakku, pergilah ke medan juang". Walau sesungguhnya ibu tidak setegar itu.

Suatu pagi yang bersejarah ! Kau begitu bersemangat, berlari ke jalan dengan ceria. "Ah, anakku telah jadi laki-laki dewasa yang paham akan tugas sejarahnya. Tidak lagi seperti anak kecil dan tua-tua bangka di atas sana yang cuma mengingat dirinya". Aku menatapmu dari beranda rumah dengan cemas yang coba aku sembunyikan. Sesaat kemudian kau menghilang, berlari ke selatan kota kita.

Ibu tahu, kau berlari menyongsong sebuah medan pertempuran yang begitu tidak adilnya. Ada seribu bedil telah disiapkan untuk menyambutmu, memberikan "ciuaman judas" kepada kamu-kamu yang cuma berikat kepala dan bertameng kebenaran. Nak, kamu sementara memasuki medan pertempuran dimana seribu bedil telah disiagakan untuk menembakmu. Karena itu ibu cemas.

Pagi itu seharusnya ibu menciummu sekali lagi. Berkali-kali ! Mendekapmu lama-lama. Siapa tahu kau tidak kembali untuk selamanya. Ternyata......., pagi itu menjadi pagi terakhir kita. Ciuman itu menjadi ciuman penghabisan. Dan ibu kehilangan :
Telah gugur matahariku
Gugur kepagian di sebuah siang yang mendidih
Tergeletak sendirian di jalan
Sepih !
Muram !
Sementara gardu dan polisi terasa jauh melambai
Tapi anakku....
Ibu bersamamu disetiap luka dan nyerimu
Ibu bersamamu diisetiap sakit dan mati kecilmu
Kau tidak sendirian anakku !
Di sini bendera-bendera telah dikibarkan
Setengah tiang !
Dan tidakkah kau dengar lagu itu yang dikumandangkan memenuhi langit ?
"Telah gugur pahlawanku..."
Tersenyumlah anakku, tersenyumlah...."

Seorang tentara lewat dan menyepakmu ke pinggir. Ya Tuhan, sepatu lars itu. Kebiadaban itu. Kuingin menggorok leher yang punya kaki itu, merampas senjatanya dan kutembakan merobek dada penguasa-penguasa tolol itu, menumpahkan darah mereka. Dan pada setiap erangan kesakitan mereka, kuingin tanyakan ini : "Bukankah kematian itu menyakitkan tuan-tuan ?" Darah mereka akan kupakai untuk menulis di jalan-jalan, di gedung-gedung, di buku-buku sejarah, di ingatan-ingatan setiap kita : "Kita tidak butuh tentara-tentara yang membunuhi anak-anak kita yang satu-satunya tindak kejahatan mereka adalah idealismenya.

Di jalan ini revolusi menggeliat. Di jalan ini seribu bedil ditembakan dan seribu pahlawan lahir. Anakku, namamu diabadikan di jalan ini. Pahlawan ! Tapi jika ibu dapat memilih, kutak ingin kau jadi pahlawan dan mati. Mataharimu baru terbit dan belum separuh mengarungi cakrawala menyaksikan keindahan-keindahan kehidupan. Belum saatnya kau pergi. Kaulah yg mesti mengantarkan kami yang tua-tua ini ke pekuburan. Bukan sebaliknya anakku ! Kepergianmu mengoyak rahimku dan hidup jadi beban. Nak, setiap ibu telah menyabung nyawa untuk menghadirkan kehidupan. Dan yang diinginkan setiap mereka adalah hidup : hidup yang tak pernah padam dengan begitu cepat, apalagi direnggut paksa.

Ah, ternyata Batavia itu belum berlalu. Ibu-ibu meratapi anak-anak mereka, anak-anak menangisi orang tuanya, istri menangisi suami, suami menangisi istri, orang-orang menangisi sesama mereka, yang mati , yang dibantai, yang raib, oleh kekuasaan, setiap saat, di setiap tempat. Ratap tangis memenuhi ruang dan waktu, merasuk ke bilik-bilik hati kita, meracun ! Di sini penindasan berkibar-kibar dan rakyat sampai lelah menangis dan kehabisan air mata. Hari ini, tangis di kota tua itu ada di sini. Yah ! Ada di sini, cukup dekat, terlampau dekat dengan semua kita.

Di sini, di kota ini, setiap ibu yang merelakan anaknya turun ke jalan menentang tirani, harus menyiapkan diri untuk hidup dengan separuh hati dan terluka. Sebab ketika bedug Magrib bertalu dan lonceng gereja sore berdentang, saat dimana para demonstran lelah dan pulang, setiap ibu bisa saja menjadi ibu-ibu yang berdiri di ujung jalan, setelah seharian cemas dan lelah menanti, bertanya meratap, " Dimanakah anakku ?" Tapi para demonstran cuma terdiam, berlalu merunduk, sepih ! Mata mereka berkaca-kaca, tangan mereka gemetar menunjuk langit".

Daniel Ama Nuen

Mutiara Dari Woka Belolon
Posting Komentar