Selasa, 30 Juni 2015

POLITIK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA (Bagian 2)

Oleh Daniel Ama Nuen

Untuk sebuah perubahan sosial politik yang radikal di desa haruslah dirancang dengan sangat hati-hati, dan itu memakan waktu. Segelintir orang harus masuk ke tengah-tengah warga desa untuk bersama-sama dengan mereka mengkritisi kenyataan-kenyataan sosial politik (yang tidak manusiawi tentunya) yang dihadapi bersama dan bersama-sama mencari cara untuk mensiasatinya. Disana sudah tidak lagi ada yang berposisi guru saja, atau murid saja, tapi guru sekaligus juga murid dan murid yang sekaligus guru. Dan bahan yg dipelajari adalah realitas sosial politik.

Hanya dengan jalan ini kita akan membuat perubahan yang berarti di desa. Kesadaran kritis warga desa yang selama ini ditindas pelan-pelan ditumbuhkan. Dan suatu saat mata mereka akan terbuka dengan sendirinya bahwa penyalagunaan kekuasaan adalah kejahatan dan itu harus dicegah atau dilawan. Di sini apatisme secara perlahan dirubah menjadi antusiasme. Dan warga desa yang antusias tentu mempunyai mobilitas yang tinggi dan secara aktif terlibat dalam sistem politik untuk memperjuangkan hak-hak politiknya.

Segelintir orang yg masuk ke tengah-tengah warga desa, mereka adalah intelektuil-intelektuil yang menurut Freire sudah tidak lagi memaksakan teori kepada warga desa. Mereka adalah teorisi yang menyatu secara organik dengan kebudayaan dan aktivitas warga desa yang tertindas. Mereka tidak menyebarluaskan pengetahuan secara formal kepada masyarakat, tetapi bergabung dan hidup bersama untuk mengkondisikan masyarakat secara terus-menerus dalam rangka proyek sosial yang radikal.

Menengok ke desa, mayoritas orang sekolahan berlomba-lomba jadi pegawai negri. Dan dalam sebuah resim yang kleptokrasis, mereka justru datang untuk membodohi warga desa. Dan cendekiawan yang belum berkhianat? "Mencarinya dengan anjingpun" tidak kita temui di desa. Mereka semua lebih suka berkumpul di pusat-pusat kota sambil memandang desa dari jauh, sangat jauh, lewat buku-buku yang ditulis orang-orang pemerintah yang menjadi wisatawan pembangunan ke desa-desa, dan ikut berkesimpulan bahwa desa masilah sebuah tempat yang romantis : nyiur tetap melambai, ayam tetap berkokok, padi tetap menguning, Kepala Desa tetap orang terhormat dan uang sunsidi yang dikirimkan dari Jakarta tetap dibelanjakan untuk kepentingan umum.

Padahal di sana warga desa tetap merasakan penindasan - kekuasaan dirasakan sebagai sesuatu yang menyalibkan hari demi hari - tapi lucunya , ini bukan persoalan bagi warga desa. Mereka malah berdoa bagi Kepala Desa mereka agar berumur panjang, murah rejeki, dan kalau Tuhan mengijinkan, boleh juga enteng jodoh kesekian kali. Sebuah kebodohan yang hanya dapat dihilangkan dengan pendidikan (politik) yang bersifat memerdekakan - sebuah aksi budaya dimana manusia-manusia ditumbuhkan kesadaran kritisnya untuk kemudian bisa menyadari posisi dirinya sebagai subjek-subjek yang merdeka di hadapan kekuasaan atau apapun juga, yang bisa, sangat bisa, menulis sejarah hidupnya (selesai).
Posting Komentar