Rabu, 15 Juli 2015

AMA KOPONG – SI PETERNAK ISU

Oleh Petronela Somi kedan

Sebenarnya ada banyak pekerjaan yang bisa di pilih ama Kopong, dia mewarisi keahlian ayahnya beternak kambing sampai panjang tanduknya melebihi 40 cm ,,, ini spektakuler,,,kemampuan ini mahsyur diantara orang-orang di kampung tempat ama Kopong tinggal. Bukan seperti di pulau tetangga yang kambingnya gampang selfie, galau, pingsan dan mati.

Atau, dia bisa memilih ke kebun menanam jagung pun mengiris tuak ,,, kedua pekerjaan yang tidak pernah sia-sia dan dianggap ama Mangu, kakek si ama Kopong, sebagai pekerjaan yang setara dengan putra Altar.

Tetapi, ama Kopong tidak mau jadi generasi oplosan-katanya, dia ingin jadi generasi yang menciptakan perubahan dan pembangunan untuk kampungnya -  pembangunan yang dia maksudkan adalah gedung-gedung tinggi seperti yang sering ia lihat dengan tatapan nanar dan kagum setiap kali dia dapat kesempatan mengunjungi ibu tiri kota.

Maka sudah dia tekadkan,,,dia akan berternak isu saja, hari-hari dia akan membibitkan dan menjual isu. Beberapa orang di kampungnya tidak percaya, namanya saja isu – hampir-hampir mirip dengan asu lah. Profesi ama Kopong ini, dalam konteks perpolitikan desa bisa di sebut sebagai tengkulak, bahasa kerennya broker, kalau bahasa alaynya broken heart! :D

Kali ini ama Kopong ingin mendapatkan modal untuk beternak isu. Maka ia harus pergi ke ibu kota untuk mengadu nasib, bukan mengadu ayam,,,jaman sekarang adu ayam kurang catchy.

Ama Kopong kemudian mengabari Ama Keku, saudara sepupunya yang selalu saja percaya pada ama Kopong dan mimpi besar hidup dari isu nya. Ama Kopong pun kemudian meminjam uang sebesar 10 Juta untuk modal bermigrasi. Gampang saja, ama Keku menjual dua kambingnya dengan harapan sepupunya akan memenuhi janji mengirimkan uang ganti rugi 10 kali lipat. Hail yeah,,,,ama Keku sudah siap-siap bangun sekte sendiri dengan modal seratus juta itu!

Kabar burung mengatakan ama Kopong sukses,,,maklumlah,,,tv rusak karena listrik mati segan hidup apalagi, jaringan hp lupa di beli sekalian saat beli hpnya, koran pun tak ada, jadi ama Keku memang harus percaya pada burung yang membawa kabar itu. 

Yakin pada kesuksesan ama Kopong, ama Keku pergi meminta tanah pada kakek Mangu,,, untuk membangun rumah ibadat bagi sekte barunya. Tentu saja, kakek Mangu mengamuk dan melempar panci berisi bekicot rebus bakal makanan babinya. Dalam hatinya kakek Mangu herman luar biasa betapa bodohnya anak muda jaman sekarang. Ama Keku yang romantis magis dan naïf pada saat yang bersamaan tidak hilang akal,,,dengan muka penuh lendir bekicot dia maksa eksis merayu kakek Mangu dengan kue rambut dan tuak sadapan nya yang paling nikmat.

Kakek Mangu, seperti petani lainnya yang cerdas dan tenang kali ini sudah tidak tahan lagi dengan amarahnya. Dia mengambil parang dan mengejar ama Keku. Ama Keku lari sambil berteriak,,, teriakan yang sebenarnya sudah dia rancang untuk jadi khotbah pertamanya ketika sektenya sudah di dirikan.

---

Sampailah tenggat waktu membayar utang, lima tahun,,,,begitu janji awal sepupunya. Surat tagihan miris pertama ama Keku kirim ke ama Kopong bulan februari,,,dibalas surat romantis happy valentine dari ama Kopong,,,,ama Keku memerah marun bahagia mendapati balasan romantis sepupunya. Tak sabar, dia mengirim surat tagihan kedua bulan April berikut daftar belanjaan barang bangunan di pulau seberang, dibalas ucapan selamat paskah berikut cerita sukses ama Kopong hidup di Ibu Kota, ama Keku membaca sampai terharu dan lupa pada piutangnya. Surat tagihan ke empat dibalas Ama Kopong dengan cerita pak Pos yang kena musibah bisul di depan hidung, ama Keku makin terharu membacanya. Surat balasan untuk tagihan yang kelima di dapati kakek Mangu, dia membuka nya sambil memaki kebodohan ama Keku. Ia kemudian memaksa ama keku mencari jaringan di kampung sebelah dan bicara langsung lewat telepon dengan ama Kopong.

Saat ditelpon,,,ama Kopong mengatakan dia sedang bertemu dengan orang penting yang bisa menurunkan uang banyak untuk membeli banyak tanah dan kapal pesiar yang bisa keliling Nusantara meresapi perjalanan patih Gajah Mada dan membeli cerutu Brazil untuk kakek Mangu. Kakek Mangu yang seminggu ini sudah tidak bisa isap kebako lagi karena tanah yang dulu dia Tanami kebako sudah ditanami mente sebelum ama Kopong merantau pun naik pitam, ia mengambil hp dan merebus hp itu untuk makanan babi.

Ama Keku,,,,masih saja berharap pada uang yang lebih banyak, tanah yang luas untuk bangun rumah ibadat sekte barunya, kapal pesiar dan cerutu brazil jatah kakek Mangu yang ia anggap hangus di makan babi :)

Oestgeest, 13 Juli 2015

Cerpen ini perna dipublikasikan melalui blog;

http://lamalekasiadonara.blogspot.nl/2015/07/ama-kopong-si-peternak-issu.html?spref=fb&m=1
Posting Komentar