Kamis, 02 Juli 2015

KOTA MENYAPA PELOSOK

Oleh Baruna Cabodaflora

Hei, flamboyan baskara! Bila besok kau hendak mencium rekah bibir barunawati di timur nusa bunga. Katakan padanya, gaung Meko dan Palmerah sudah membentur gendang telinga kota.

Hei, bayu kembara! Kalau lusa kau akan mencumbu busung dada perawan pasir putih di timur nusa bunga. Katakan padanya, kasak-kusuk kehadiran bule-bule
dan tuan-tuan berkantong tebal 'tuk menikmati kemolekan tubuhnya demi devisa, sudah memantik bara cemburu di hati kota.

Hei, nawang wulan! Jika kau berpapasan dengan raja kalong di langit malam sisi timur nusa bunga. Katakan padanya, desah gelisahnya sudah mengusik tidur kota.
Kota berkaca gundah dalam secangkir kopi robusta. Kota menyerap nyanyian salam dari desa di lidah Leo Kristi. Kota melihat potret pembangunan dalam bingkai puisi WS. Rendra. Kota menyimak sajak Peringatan Wiji Thukul. Kota mendengar bocah pemancing ikan menangis di dalam solunya di tengah-tengah pekatnya lapar malam dalam syair Saut Situmorang.

Kita tidak anti pembangunan. Tapi apalah arti bandara yang dibagun di atas tingginya angka kematian ibu-ibu dan balita, buruknya sanitasi dan kurang gizi, ruas-ruas jalan rusak parah, dugaan korupsi yang berkeliaran, penerangan yang belum memadai dan pelabuhan-pelabuhan belum sanggup menjauhkan hasil bumi dari congor - congor cukong lokal?

Kita bukan musuh kemajuan. Tapi apalah makna pesawat dan jembatan penghubung bagi bocah-bocah yang bersekolah di bedeng-bedeng beratap reot, dan rakyat menggelepar kelaparan lalu berbagi makan putak dengan hewan ternak?
Oh, pelosok negeri! Nasibmu Tidak Tentu, Nanti Tuhan Tolong, Tapi Nalarmu Tidak Tentu.

Oh, lumba-lumba sisi timur nusa bunga! Kota merasakan ketar-kuatirmu. Dipaksa kawin sebelum waktunya.

Oh, gambar buram keindahan! Kota menyapamu dalam tanya, " mudarat ataukah maslahat?"

---000---

Cdf, 24.06.2015.
Posting Komentar