Selasa, 21 Juli 2015

LOGIKA MORON NASIONALIS ANAK RUMAHAN DAN KONSTRUKSI HISTORIS SEBUAH MASALAH (Bagian 2)

Oleh Sugali Adonara

(Tulisan kedua dari tiga tulisan, mempertanyakan posisi pemuda Adonara terkait pembangunan Bandara dan Jembatan Palmerah)

Logika moron nasionalis anak rumahan

Sebenarnya agak malas saya untuk menulis belakangan ini. Apalagi menulis sesuatu yang sedikit “serius” diluar kebiasaan menulis cerpen atau puisi. Apalagi ini bersifat kritik kepada sebuah keadaan dimana keadaan tersebut melihat segala soal dari kacamata kuda, apalagi ini kuda peliharaan. Agak asu juga rasanya melihat yang bengkok-bengkok, mulai dari sebuah postingan tentang Larantuka kota kemomos (terlepas dari masyurnya sebagai kota Reinha) dan betapa semangatnya kaum muda dari Mabar mengagitasi dan memfasilitasi warga untuk melawan watak brengseknya pemprov NTT yang hendak merampas satu-satunya ruang rekreasi tersisa bagi warga Mabar, Pantai Pede. Masalahnya usaha meluruskan yang bengkok-bengkok ini dianggap ngapusi atau paling banter cuma pamer intelektual dalam dunia hampa udara. Tapi saya rasa menulis sesuatu – meskipun nantinya dianggap mbelekedes karena hanya diposting di dunia maya oleh segelintir orang – tentang situasi yang tidak kalah mbelekedes bagi saya bukanlah masalah besar serupa perang twit ala Dhani dan Fahrat Abbas. Yang membesar-besarkan biasanya mereka yang menggangab diri tidak “berteori tanpa bertindak” meskipun kedunguan sering lebih buruk dari pemuja logika formal.

Ini soal logika moron kaum nasionalis anak rumahan yang coba meleburi asas manfaat hanya dengan mengedepankan logika fungsi sebuah benda. Entah fungsi benda itu digerakan oleh siapa dan untuk apa, toh hal semacam itu tak berlaku dalam pemuja logika jika-maka yang tidak kepalang tanggung juga sudah buat hancur hukum relativitas Einstein tanpa ampun. Bahwa kalaupun fungsi sebuah benda adalah keberadaan benda itu, maka keberadaan benda itu tak perlu lagi dipertanyakan ada di mana dan pada kondisi apa dia harus berada. Begitulah para pemuja logika jika-maka mempertontonkan ke-ngehekan-nya dalam mengkonstruksi sebuah soal. Soal kuantitas itu tidak berhubungan dengan kualitas atau artinya jiwa ada baru benda seturut bacotan Decartes dan antek-anteknya yang memuja eksistensi tanpa mengkonstruksi peruntukan. Rasa-rasanya “ada/idea” dalam filsafat Platon mengalami diskursus setengah-setengah.

Njelimet? Baiklah saya akan menggunakan ilustrasi cukup mudah untuk menelanjangi logika ngehek ala nasionalis amak rumahan ini.

Ketika Romo Mangun memperjuangkan pemukiman kumuh di bantaran kali Code, dia mungkin saja menjadi arsitek paling tidak populer di dalam kelompok arsitek Indonesia yang sudah kepalang tanggung memuja mazhab Chicago atau arsitek yang mengkultuskan mazhab Frankfurt tanpa diskursus lanjutan. Perbedaan antara yang Chicago dan Frankfut adalah bagimana mereka melihat fungsi dari bangunan (baca: benda). Ketika itu mazhab Chicago melihat fungsi sebagai sesuatu yang terpisah dari tujuan sebuah bangunan, sementara bagi penganut mazhab Frankfurt fungsi harus sejalan dengan tujuan bangunan tersebut. Oleh sebab itu, seorang Le Corbusier pernah berkata: rumah adalah mesin untuk tinggal. Artinya, fungsi rumah tidak bisa terlepas dari unsur-unsur yang membuatnya menjadi sebuah “mesin” termasuk manusia. Manusia dengan segala pembentuk kehidupannya. Begitulah diskursus arsitektur seorang Mangunwijaya dibangun, dimana manusia adalah tolak ukur dari fungsi sebuah bangunan (baca: benda). Artinya, tanpa mendefenisikan terlebih dahulu sebuah benda secara historis, fungsi benda tersebut tidak bisa diimplementasikan.

Mangunwijaya - berbeda dengan arsitek bling-bling sejenis Ridwan Kamil - adalah seorang arsitek yang melihat benda atau kreasinya sebagai sebuah keutuhan fungsi. Dia tidak ingin menyia-nyiakan konsep hanya demi pemuasan estetika yang ornamental. Karena baginya, kepongahan tercipta dari ornamentas-ornamentasi yang justru mengalienasi manusia. Baginya manusia haruslah yang mendefenisikan fungsi sebuah benda bukan sebaliknya, manusia didefenisikan oleh keberadaan sebuah benda. Seperti Platon mengatakan bahwa jiwa adalah ide dari sebuah benda; maka ketika benda dipasung jiwa dari benda tersebut tetap berdialektika sebab benda itu masih ada. Artinya, ketika benda mendapatkan pelurusan defenisinya fungsi benda tersebut mendapat tempat.

Apa hubungannya dengan logika kaum nasionalis anak rumahan? Ada baiknya kita tau dulu apa itu nasionalis anak rumahan. 

Gelombang penolakan terhadap kaum Ahmadiyah di Indonesia itu equal dengan penerimaan terhadap neoliberalisme dan domestikasi suku-suku pedalaman di Indonesia. Menjadi hal yang sangat lumrah ketika mendengar sekelompok pemuda alay berteriak soal asimilasi budaya tapi kelakuannya lebih bajingan dari politisi PKS yang ingin menghapus pelajaran bahasa daerah dari kurikulum sekolah. Kaum nasionalis anak rumahan ini akan membela mati-matian ketika kelompoknya dizolimi, namun akan dengan senang hati mereduksi nilai kedzoliman itu ke dalam ide-ide komprador mereka. Maka jangan heran ketika melihat linimasa twiter dipenuhi hastag-hastag semacam #FreeGaza atau #SaveAhoknamun pada kesempatan lainnya mereka akan dengan senang hati berkampanye soal #GanyangSyiah atau #HidupKhilafah. Artinya, logika ala nasionalis anak rumahan ini adalah memprofankan fungsi mereka sebagai makhluk berpikir. Bagi mereka eksistensilah yang menentukan kualitas mereka, bukan kulaitas mereka yang menentukan eksistensi mereka. Ini sama halnya dengan sebuah benda dilihat dari keberadaanya tanpa mentolerir peruntukan benda tersebut. Singkat kata: eksis dulu deh, soal berkualitas atau tidak itu kan urusan lain. Iya toh?

Konstruksi historis sebuah masalah: bandara dan jembatan Palmerah

Di Flotim sedang gencar isu jembatan Palmerah dan rencana didirikannya bandara. Argumentasi utama dari kedua proyek ini adalah membawa kemajuan dan perubahan bagi Adonara setelah lama terisolasi dari kemajuan. Selain itu kedua proyek ini diharapkan – bila terealisasi – bisa membuka akses ekonomi yang bisa membantu kemajuan kaum tani, buruh, dan nelayan di Adonara. Dan yang paling mutakhir adalah menopang kemajuan wisata di Adonara yang masih tradisional. Untuk menguji argumentasi ini, begitu banyak kelompok, individu, termasuk kelompok dan individu pemuda mengeluarkan pendapat dan argumentasinya. Bagi yang mendukung proyek ini argumentasinya seiring sejalan dengan apa yang dikemukakan Gubernur NTT maupun Bupati Flotim. Sementara yang tidak mendukung seiring sejalan mengatakan belum urgennya pembangunan bandara dan jembatan Palmerah dengan bertolak ukur pada kondisi masyarakat Adonara.

Mengukur argumentasi ini, baik pendukung, yang kontra maupun dari pihak birokrat maka yang patut untuk dilihat pertama adalah masalah-masalah yang ada dalam struktur sosial masyarakat Adonara. Selain itu perlu adanya kajian - terutama bagi kaum muda yang memegang posisi kaum intelektual – untuk melihat secara mendalam batasan-batasan fungsi, keberdaaan dan peruntukan bandara dan jembatan tersebut dari konteks manusia sebagai yang mendefenisikan fasilitas tersebut. Artinya telaah akademis harus dilakukan dengan terukur dan jauh dari mental-mental komprador; yang mudah mabuk pada optimisme semu atau yang hanya berpikir soal ada dulu baru mendefenisikan fungsinya.

Sebagai agen perubahan, seorang mahasiswa seperti saya, jelas mengidamkan perubahan yang signifikan di lewotanah tercinta, Adonara. Namun perubahan signifikan tidak bisa sekedar “mengambil kesempatan dan kesempitan.” Soalnya, ini bukan bicara sepakbola atau merutuki peluang yang dibuang sia-sia oleh Lionel Messi saat berhadapan satu lawan satu dengan Kaylor Navas. Berbicara perubahan lewotanah maka yang dibicarakan adalah perubahan manusianya, terutama kualitas hidupnya. Sampai pada soal ini, merubah arah pembangunan dengan harapan kualitas hidup manusia dimana pembangunan itu terjadi meningkat, tidak hanya sekedar jamuan makan siang ala tuan-tuan dalam negosiasi bisnis. Jelas harus ada landasan historisnya. Begitu pula ketika berusaha melakukan kritik atau dukungan pada sebuah kebijakan pembangunan, perlu adanya landasan historis pula.

Landasan historis memungkinkan pengkritik atau pendukung untuk mencapai simpulan argumentatif dengan melakukan negasi atas kemungkinan-kemungkinan perubahan itu berujung. Itu artinya proses mengkosntruksi sebuah isu atau masalah dimulai dari dasar masalah itu datang. Bandingkan sumber masalah itu dengan rujukan-rujukan berupa realitas pendahulunya; melakukan hipotesa terhadap data-data historis tersebut; membuat simpulan dan mengukur simpulan tersebut dengan masalah atau isu yang dibedah. Relevansi antara data historis, simpulan dan masalah yang dibedah akan menghasilkan putusan yang argumentatif yang bisa menentukan secara rasional-ilmiah posisi seseorang dalam melihat masalah.

Kembali ke Adonara, bahwa fakta historis menunjukan mayoritas masyarakat Adonara hidup sebagai nelayan, petani, peternak dan buruh kasar. Fakta historis ini bertolak belakang dengan kebijakan pembangunan yang diimplementasikan pemerintah terhadap Adonara yang diakui sebagai penyumbang PAD terbesar di Flotim. Kebijakan-kebijakan kontraproduktif ini dintandai dengan penghisapan habis-habisan kepada kaum tani oleh kulak; perebutan lahan kerja oleh kaum buruh kasar yang tidak jarang menciptakan ketidaknyamanan publik (perebutan penumpang oleh portir dan kapal penumpang, misalnya); konflik tanah yang tidak selesai-selesai (yang satu ini sering jadi isu historis ngehek yang coba dimanipulasi birokrat biar terlihat lebih baik dari pilatus); dan masih banyak lagi persoalan sosial-ekonomi, budaya dan politik yang tak terselesaikan dengan baik; menguap seperti es di sahara. Nonsens!

Lalu kemudian menjelang pilkada 2017 (maaf saya memang sangat curigaan dengan etika politik politisi Indonesia, khususnya NTT) guburenur NTT menghebuskan kabar sebuah terobosan monumental lewat program jembatan Palmerah dan pembangunan bandara di Adonara. Kedua program ini menurut kakang Angling Dharma sudah sedang dilakukan kajian awal berupa studi kelayakan proyek. Tapi saya tidak akan membicarakan itu. Toh, tanpa dikritik pun hasil dari studi kelayakan itu tidak ada bedanya dengan dongeng yang diceritakan di dunia antah berantah. Ingat studi kelayakan DOB Adonara? Ya, itu. Ngapusi!

Lalu dengan segenap argumentasi, pihak yang mendukung (saya ini menolak beneran loh) melakukan agitasi lewat tulisan sentimentil (kalau tidak mau dibilang sarkasme ora mutu) sampai pada polarisasi ruang (kesempatan dalam kesempitan) dan menafikan waktu (historis/data material demografi masyarakat Adonara) bahwa bandara Adonara dan jembatan Palmerah itu penting dan wajib kalau mau lihat Adonara mengalami kemajuan pesat. Argumentasinya berlanjut, kalau akses transportasi dibuka selanjutnya investasi di Adonara akan semakin meningkat pesat karena investor lebih mudah masuk Adonara (gara-gara logika ini saya sampai kepikiran untuk ketemu wali kota Batu dan ngajak debat kenapa di Batu tidak sekalian dibangun jalan Tol dan bandara). Kalau investor didefenisikan sebagai pemilik modal, baik duit maupun kemampuan akomodatif, maka apa bedanya dengan kulak yang tak lain tak bukan tentakel dari gurita investor ini? Mau lebih maju lagi saya bertanya begini saja: apa syarat-syarat daerah otonom yang barokah melindungi rakyatnya sudah dipenuhi kabupaten Flotim? Melindungi rakyatnya berarti, berbicara terkait demografi masyarakat Flotim; mendefenisikannya dan memetakan persoalan-persoalannya lantas dieksekusi dalam bentuk kebijakan bukan sekedar artefak untuk menghiasi kantor Bupati. Aduh, saya lupa bahkan tanpa akses transportasi investor sudah menguasai harga-harga di Adonara. Saya kasih contoh kecil: berapa harga jual bensin eceran di Adonara? Bandingkan dengan harga jual di SPBU Waiwerang yang dibuka sejam dalam sehari. Bayangkan, betapa barokahnya arah pembangunan di Flotim bagi masyarakat, khususnya di Adonara.

Begitu tuli, buta dan bebalnya generasi muda Adonara, terlebih yang melihat persoalan Bandara Adonara dan Jembatan Palmerah hanya sebatas kesempatan. Konstruksi “kesempatan” secara historis apa yang hendak ditawarkan kaum pemikir, sejenis mahasiswa dan kaum muda lain, agar arah perubahan adalah kerja kolektif? Aneh rasanya ketika mendengar sekelompok pemuda Adonara merutuki praktek pengisapan di Adonara tapi pada kesempatan yang sama mengamini kerja-kerja kolektif penghisapan itu sendiri. Aneh rasanya mendengar sekelompok pemuda Adonara mengutuki diskriminasi sosial-ekonomi di Adonara tapi mengiyakan akses kapitalisasi dan memujanya. Aneh rasanya mendengar anak-anak muda mendewakan investor tapi lupa bahwa Adonara sudah digempur investor sejak kulak mengontrol harga hasil bumi di Adonara.

Saya tidak berusaha mengkotak-kotakan, tapi kualitas logika moron ala nasionalis anak rumahan memang harus dikebiri! Karena sekedar “ada saja dulu” itu ahistoris.


Salam piss dari Arema land!
Posting Komentar