Rabu, 15 Juli 2015

MATINYA KRITISISME KAUM MUDA (Bagian 1)

Oleh Sugali Adonara

(Ini akan menjadi tulisan pertama saya dari tiga tulisan yang akan mengkritik posisi kaum muda – tidak hanya mahasiswa – dalam melihat geliat dan isu pembangunan terkait Bandara di Adonara dan Jembatan Palmerah).

Tidak bisa dipungkiri, Bongkar-nya Iwan Fals adalah salah satu lagu atau hymne pembrontakan terbaik sepanjang sejarah musik Indonesia. Tidak peduli seberapa brengsek lirik lagu Iwan sekarang, sejarah tidak bisa melupakan waktu mudanya ketika dia menuangkan semua energi produktifnya untuk menciptakan lirik-lirik provokatif, termasuk Bongkar yang masyur itu. Yang pada akhirnya lirik itu pernah saya nyanyikan ketika SMP dan ikut demo soal RUU Sidiknas 2002. Dan ternyata itu menjadi hymne gerakan pemuda saat meruntuhkan Soeharto si bengal itu.

Bisa dibilang, musisi-musisi muda seangkatan Iwan waktu itu lebih suka menghabiskan energi postifnya dalam lingkar kenyamanan industri dan kehidupan yang tidak mau direcoki intel-intel Soeharto. Tidak jauh beda dengan seniman musik mainstream sekarang ini, yang bahkan untuk urusan sosial hanya berakhir pada dompet duafa di depan kamera. Bayangkan di depan kamera! Dan ucapkan selamat datang ke dunia banditos industri yang mempertontonkan dengan vulgar distorsi klas dan pembunuhan karakter antar klas.

Sebenarnya di awal 2000-an pasca reformasi ada pemuda gila bernama Doyz yang nekat melawan arus popularitas Iwa K lewat album Prespektif yang tahun 2014 kemarin diremastering. Lalu ada si otak sompral Ucok “Mourge Vanguard” dari Bandung yang sukses dengan Godzkilla Necrometry yang membuat seni Rapping tidak sekedar bacotan kaufinis atau romantisme acak kadut ala Wiz Khalifa. Jelasnya Indonesia pernah punya segelintir orang dalam lapisan generasi muda yang berani memompa habis-habisan energi revolusionernya dan sangat menghormati posisinya sebagai perantara di dalam perang antar klas dengan apa yang dia bisa lakukan. Dan untuk itu mereka berani menui badai dengan manafikan optimisme palsu ala industri bling-bling.

Kondisi laku pemuda di dalam dunia seni ini tidak ada bedanya dengan kaum muda yang berkutat dalam dunia kampus atau pekerja. Indonesia mencatat pernah punya D.N Aidit yang rebel namun soleha. Lalu ke tahun 1960-an Indonesia punya Soe Hok Gie (yang satu ini Idola gua banget) yang idealismenya bahkan tidak bisa diruntuhkan janji surga duduk di Senayan selain oleh penderitaan rakyat. Kembali sedikit ke belakang di awal perjuangan kemerdekaan ada Tan Malaka, satu-satunya pemuda Indonesia yang berhasil menelurkan filsafatnya sendiri yang terkenal dengan nama Madilog. Kemudian di era Orba ada Wiji Thukul, Marsinah dan Munir. Semua pemuda pejuang ini tidak pernah hidup dalam lingkar kenyamanan atau dengan perangai oportunis coba tidur lelap sambil membayangkan posisi politis dengan Bantley atau Toyota Crown.

Pemuda, di mana pun posisinya, memiliki fungsi yang sama sebagai pengganti generasi sebelumnya. Dalam pemahaman sosiologi, pemuda adalah klas borjuis kecil. Klas borjuis kecil merupakan kelompok masyarakat yang tumbuh secara natural dalam lingkar kemapanan, terutama dalam penguasaan akses informasi dan modal intelektual. Hal ini sejalan dengan batasan pemuda sesuai UU No. 40 Tahun 2009 yang memposisikan pemuda sebagai generasi yang berkembang secara biologis dan psikologis. Berkembang dalam batasan UU tersebut bisa dilihat sebagai upaya belajar, menemukan dan membuktikan fenomena-fenomena yang bergerak dalam generasinya. Artinya, pemuda secara natural adalah pemilik perubahan itu sendiri; pengendalai perubahan itu sendiri.

Fakta kemudian bergeser ketika gerakan pemuda 1965 meruntuhkan Soekarno dan mengantar jendral Jagal, Soeharto, menuju kursi panas RI 1. Pada era Orba pemuda diikat di dalam kampus seperti pesakitan lewat pengetatan jadwal kuliah kampus, terlebih ketika aturan NKK/BKK diorbitkan oleh pemerintah Orba pasca peristiwa 1974 dan 1978. Praktis pemuda dalam hal ini kelompok mahasiswa dengan segala energi produktifnya diarahkan untuk mendukung sebuah rezim. Maka praktek jual beli tenaga produktif dalam ranah politik pun dimulai, ketika banyak kelompok gerakan mahasiswa pasca runtuhnya Soekarno menjadi agen kaderisasi kelompok elitis. Meskipun akhirnya pada 1998 gerakan pemuda yang dimotori mahasiswa meruntuhkan orde yang turut dibangun oleh generasi mereka sebelumnya. Sayangnya, orde reformasi yang digalakan kaum muda itu hanya berakhir pada lubang jamban yang baru: demokrasi liberal.

Perjalanan pemuda dalam setiap lapisan generasi Indonesia memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun diskursus bahwa tenaga pemuda sering menjadi alat pemuasan nafsu syahwat berkuasa pun tak bisa dinafikan. Sebagai klas borjuasi kecil, jarak antara pemuda dan realitas sosial menjadi sangat jauh. Persoalan utamanya adalah kepemillikan atas modal intelektual, menjadikan pemuda terjerat rasa nyaman (pragmatis) dan memiliki zona hidup sendiri. Pemuda menjadi kelompok elit kecil di dalam struktur sosial kemasyarakatan, karena berposisi sebagai modal politik praktis lewat depolitisasi fungsi pemuda sekaligus sebagai tenaga yang mendorong perubahan bagi masyarakat sebagai agen kerja sosial yang tak lebih baik dari industri pencarian bakat. Akibatnya, kritisisme pemuda hanya sebatas filosofi ala Mario Teguh dan lupa pada akar materialisme nya, bahwa manusia bukanlah produk penelitian semata.

Okupasi politik dalam diri pemuda dimulai ketika kaum muda diarahkan untuk menjadi “positif” dalam konteks konstitusi, yang mana konstitusi ini sudah dimotori oleh kehendak birokrat untuk meminimalisir regresi terhadap posisinya. Pemuda diarahkan secara sistematis untuk menjadi “kritis” di dalam trem-trem kelompok elitis. Contoh paling muthakir adalah peristiwa penolakan masyarakat Yunani terhadap okupasi World Bank, IMF dan Bank Sentral Eropa lewat bailout akibat krisis ekonomi di sana. Meskipun secara kasat mata gerakan itu (yang juga dimotori kaum muda) merupakn salah satu people power paling dramatis di dunia, namun faktanya gerakan kritis itu masih menjadi tujuan politis kaum kiri bling-bling Yunani. Bahwa pada akhirnya gerakan itu melepaskan Yunani sebagai bangsa dari cengkraman para pemodal kelaparan lewat badan keungan dunia tersebut, hal itu merupakan soal lain. Bahwa keberhasilan rakyat Yunani secara kolektif harus dirayakan pun tetap soal lain. Bahkan bahwa sebuah gerakan antar klas pada akhirnya harus terselesaikan dalam ranah politik pun merupakan hal lain.

Kooptasi politik terhadap gerakan rakyat, terkhusus yang dikomandoi kaum muda, bukanlah hal baru. Ketika gerakan 1965 berhasil meruntuhkan demokrasi terpimpin ala Soekarno, mantan militan pemuda secara gamblang memperebutkan kursi di pemerintahan, mulai dari senayan hingga istana. Hal ini memicu Gie mengirimi teman-temanya hadiah berupa perlengkapan rias wanita. Pada era reformasi bigot sejenis Amien Rais bertebaran di mana-mana mulai dari senayan hingga ke istana. Bahwa meskipun ada kelompok pemuda yang tetap memilih posisinya sebagai katalisator dalam perang antar klas, adalah hal lain yang patut diapresiasi. Namun kematian kritisisme pemuda sebagai akibat dari posisinya sebagai borjuasi kecil menunjukan betapa tidak efektifnya gerakan pemuda sebagai pembeda dalam gejolak sosial kemasyarakatan.

Kamatian kritisisme pemuda, atau kalau mau lebih sopan, kematian berpikir kaum muda merupakan akumulasi zaman dan ketidakberdayaan pemuda untuk independen. Kerancuan pemuda dalam melihat dan mengkonstruksi masalah pun menjadi persoalan yang patut untuk diperhatikan. Tapi persoalan ini urusan siapa? Ini urusan pemuda sendiri: memilih menjadi bigot atau fagot sekalian; atau memilih jalan sunyi seorang ronin. Pemuda harus berani kembali ke posisinya sebagai katalisator pertarungan klas dalam masyarakat bukan sebagai alat penguasa, baik secara sadar maupun tidak.
We are young! We rule the world!

Tulisan ini perna dipublkasikan melalui grup facebook WOKA BELOLON CULTURE SPACE (https://web.facebook.com/groups/1388910914769371/permalink/1434192343574561/)



Posting Komentar