Jumat, 31 Mei 2013

Ridwan Rio dan Io

Oleh: Yunita Patrisia

Ini adalah kisah nyata yang  saya ketahui ketika kami berada di empat meja makan pesanan om  Rio di salah satu restorant di Surabaya. Aku sendiri di tengah-tengah orang  Kei Maluku. Aku memulai cerita ini dan aku sendiri tidak tahu klimaksnya ada di mana. Tapi semoga bermanfaat.


Bekerja sebagai seorang guru BP. Dikalangan orang Amerika menyebutnya sebagai pengacara yang menangani banyak sekolah. Orang Amerika memanggilnya Ridwan. Nama yang diberikan orang tuanya adalah Rio. Ayah dan saudara-saudaranya memanggilnya Rio tapi ibu memanggilnya "io". Karena ibu tidak bisa menyebut "R". Tapi itu adalah panggilan yang terbaik yang pernah ada dan selalu ada untuk om Rio. Keunikan lain orang tuanya adalah tidak bisa membaca, tidak bisa menulis dan tidak bisa bicara bahasa Indonesia. Bahkan ketika om Rio mengajak seluruh keluarganya ke Surabaya untuk jalan-jalan. Disalah satu rumah makan ibunya meminta Papeda dan kua Ikan Kuning. Makanan khas mereka. Sedikit mengelitik saat itu dengan keritikan ibunya om Rio. “Restoran sebesar ini kok tidak disiapkan makanan tradisional” ungkapnya dalam bahasa Kei yang saya tahu artinya dari teman saya ketika itu.

Yang lain memiliki dan dia tidak. Menginginkan tapi tidak dapat. Bernaung di pondok yang dingin, dan buaian sepoi-sepoi di tengah kebun. Berontak dengan semuanya ini. Menjadi kuli pelabuhan selama lima hari. Dengan modal Rp 15000 menuju Jakarta dengan empat pasang pakaian yang diisi dalam sak semen dan hingga saat ini masih tersimpan. Meninggalkan Kei, meninggalkan semua yang dia sayang tanpa pamit pada usia setelah tamat SMP. Dianggap tidak ada, hilang, dan mati.

Melawan kejamnya Jakarta dengan tinggal di bawah kolong jembatan, bekerja apa saja, semangat dan tidak perna putus asa. Sedikit menarik Jakarta kala itu. Kejam tapi membutuhkan jasa-jasa orang. Tapi sekarang melamar kerja jawabnya lima juta duluan seperti nyanyian para pengamen Yogjakata kreatif, kocak dan lucu di salah satu bus rombongan.

Dua tahun bekerja kemudian melanjutkan study-nya kembali. Semangat itu tidak perna pudar. Aktif dan selalu menjadi juara di kelas. Mendapatkan beasiswa S1 ke negeri kanguru. Melanjutkan S2 di Amerika dengan beasiswa. Menyelesaikan dengan gemilang. Maaf saudara-saudari. Tidak ada yang pernah selesai jika nafas itu masih menemani kita.

Saya sedikit menceritakan tentang surat yang  tiba di Kei-Maluku pada masa kerusuhan yang tidak pernah di ketahui isinya. Kewaspadan, kecurigaan, ketakutan membuat surat itu tidak perna terbuka. Surat yang datang dari Amerika. Surat sebagai tanda bahwa ada yang masih hidup.

Tidak ada yang mengenal. Tidak ada yang ingat. Seorang ibu lari dari anaknya yang sudah tidak dikenal lagi. Yang datang adalah om Rio dengan asistennya ke Kei Maluku. Saya jadi ingat dengan perumpaman kisah anak yang hilang. Pintu selalu terbuka atau pintu mungkin sudah tertutup kemudian terbuka kembali?  Hanya orang tuanya yang tahu. Oh maaf lagi saudara-saudari. Memang  pernah di anggap mati tapi tidak pernah di lupakan dalam hati kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya dan pintu pasti selalu terbuka. Dia hanya tidak di kenal lagi karena tahun yang banyak sudah terlewatkan.

Saya tidak mau panjang-panjang lagi cerita ini. Om Rio di utus Tuhan untuk merubah nasib keluarganya. Atau kadang saya berpikir om Rio sendiri yang merubahnya tanpa campur tangan dari Tuhan. Ah kenapa saya jadi mengajarkan diriku dengan hal yang sesat?! Maaf Tuhan. Tuhan selalu ada dan selalu menyayangi dan melindungi kita. Aku percaya 100%.

Waktu terbatas tapi tidak ada batasannya. Akhirnya kami semua meninggalkan meja makan malam itu. Dan keesokan harinya om Rio bersama asistennya kembali ke Amrik. Saya pulang dengan membawa cerita untuk diriku dan saya mengakhiri cerita ini disini. Saya jadi lebih tahu dan mengerti dengan hidup ini. Ada yang bilang jika ingin merubah hidup siapa lagi kalau bukan kaumnya sendiri? Tapi saya tidak mau bilang apa-apa. Kalian yang lebih tahu.


Yunita Patrisia

23/06/2012

Cerpen ini perna dimuat di e-magazine Pemuda Adonara Bangkit
Edisi I/Juli 2012
Posting Komentar